Ari Santosa dari media Teropong Bali ditemui saat melapor di Mapolres Bangli, Selasa sore mengatakan, dirinya menjadi korban pemukukan oleh warga saat hendak memotret aksi bentrok itu di Jalan Merdeka Kota Bangli.
"Ada yang memprovokasi melarang mengambil gambar. Dan, warga lain lanjut melakukan pemukulan dengan kayu dan senjata lainnya," kata Ari di hadapan petugas penyidik.
Tidak hanya memukul, kata Ari, warga juga berupaya merebut kamera yang dipegangnya. Oknum warga tersebut berhasil merebut kameranya, kemudian mencopot memori card di dalam kamera digitalnya.
"Kamera saya dirusak, untung saja kemudian ada polisi yang menyelamatkan dan melindungi diri ini," jelasnya.
Ari mengaku tidak mengetahui oknum warga itu, apakah dari kubu Banjar Kawan atau Desa Songan.
Namun yang jelas, dia tidak bisa menerima begitu saja aksi anarkis tersebut, sehingga memilih melaporkannya ke Mapolres Bangli.
Seperti diketahui, sore itu terjadi bentrok antara warga Desa Songan Kintamani dengan tetangganya dari Banjar Kawan.
Bentrok itu terjadi dipicu perkelahian antar siswa dari masing-masing desa. Siswa yang berkelahi sama-sama dari SMKN 2 Bangli yang terjadi Senin (18/7).
Rupanya perkelaian itu belum berakhir, hingga pada Selasa (19/7) sekelompok siswa asal Banjar Kawan yang berjumlah 30 orang secara tiba-tiba menyerbu kelas III dan melakukan penganiayaan terhadap empat siswa asal Desa Songan, yakni Made Doni Wirawan, Kadek Sumendra, Nyoman Ermawa dan Ardita Putra.
Situasi pun mendadak tegang dan kisruh di Kota Bangli. "Atas kejadian itu, empat siswa yang menjadi korban penganiayaan itu telah melapor ke Polres Bangli. Laporan itu telah kita tangani, saksi korban telah kita periksa," katanya.
Beruntung pihak Mapolres Bangli cepat bertindak sehingga bentrok masa bisa dicegah.
"Kami sudah mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan, dimana kesalahpahaman antar siswa ini supaya tidak menimbulkan permasalahan yang lebih besar lagi apalagi melibatkan warga antar desa," kata Kepala Sub Bagian Humas Polres Bangli AKP Ida I Dewa Nyoman Rai.
"Ini karena miskomunikasi. Di Desa Songan ada informasi kalau siswa-siswa mereka dikeroyok warga Banjar Kawan, sehingga memicu mereka naik pitam ingin meluruk ke Kota Bangli," jelasnya.
Sementara di Banjar Kawan, beredar informasi miring, kalau warga Desa Songan akan menyerbu.
Karena itu warga melakukan langkah antsipasi dengan memukul kulkul bulus atau kentongan, sehingga membuat warga berhamburan ke luar lengkap dengan berbagai persenjataan.
Ia mengatakan akan menyelidiki kasus ini lebih jauh. Selain untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan juga mengantisipasi masalah lain apalagi sebelumnya warga sempat ribut gara-gara pertandingan sepak bola yang dihelat Bupati Bangli pada Juni lalu.(*)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.