Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Selasa mengatakan bahwa sentimen aset mata uang di negara berkembang cenderung memudar seiring fokus pasar tertuju pada pemilihan Ketua Bank Sentral AS (The Fed) yang baru.
"Investor menunggu komentar dari sejumlah pembicara The Fed, termasuk ketua The Fed saat ini dan calon ketua yang baru," kata Ariston.
Ia menambahkan bahwa pelaku pasar uang juga sedang mengantisipasi peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember nanti. Mengacu pada risalah pertemuan Bank Sentral AS atau The Fed sebelumnya, kemungkinan dalam waktu dekat suku bunga Fed akan naik.
Di sisi lain, lanjut dia, harga minyak mentah yang terdepresiasi turut mempengaruhi pergerakan mata uang berbasis komoditas, seperti rupiah.
Terpantau, harga minyak mentah jenis WTI Crude pada Selasa (28/11) pagi ini bergerak melemah 0,64 persen ke posisi 57,74 dolar AS per barel, sementara minyak mentah jenis Brent Crude turun 0,28 persen menjadi 63,66 dolar AS per barel.
Sementara itu,ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih menambahkan bahwa sektor perumahan Amerika Serikat cenderung mengalami perbaikan. Penjualan rumah merupakan salah satu indikator ekonomi.(WDY)
Pewarta: Zubi MahrofiEditor : I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.