"Dolar AS masih berada dalam area pelemahan, sebagian investor menanggapi negatif risalah pertemuan terakhir The Fed yang menunjukkan sikap 'dovish' terhadap kebijakan moneternya," kata Analis Binaartha Sekuritas reza Priyambada di Jakarta, Senin.
Ia mengemukakan bahwa pelaku pasar menilai potensi kenaikan suku bunga Fed pada Desember memang cukup terbuka, namun kenaikan suku bunga pada 2018 mendatang masih diragukan mengingat inflasi Amerika Serikat masih cenderung mendatar.
"Kekhawatiran tentang inflasi Amerika Serikat mengisyaratkan kenaikan suku bunga pada 2018 tidak akan agresif," katanya.
Ia menambahkan bahwa pergerakan dolar AS yang cenderung melemah di pasar global itu, memberikan kesempatan kepada rupiah untuk melanjutkan apresiasinya.
Kepala riset monex Investindo futures Ariston Tjendra menambahkan bahwa perkembangan ekonomi di Eropa yang cukup positif turut mempengaruhi pergerakan mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah. Data iklim bisnis Jerman menunjukkan peningkatan dan mendorong kurs euro terapresiasi. (WDY)
Pewarta: Zubi MahrofiEditor : I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.