"Bahkan untuk dagin babi yang berkualitas baik bisa mencapai Rp21 ribu per kilogramnya," kata Sekretaris Gabungan Pengusaha Babi (Gupbi) Bali I Ketut Mupu di Bangli, Senin.
Ia mengatakan, kenaikan harga tersebut diperkirakan akibat peternakan babi di Pulau Jawa yang selama ini memasok ke Bali, mengalami penurunan populasi terkait dengan adanya kasus penggusuran kandang.
"Tapi sayang, meski harga daging babi mengalami kenaikan siginifikan, namun peternak tidak menikmati untung yang besar," kata Mupu.
Hal itu terjadi, tambahnya, akibat tingginya biaya produksi yang dikeluarkan peternak, yakni untuk membeli biaya pakan yang terus meningkat.
"Harga pakan babi sebelumnya hanya berkisar Rp285 ribu/sak, namun kini sudah merangkak ke harga Rp300.000/sak. Kenaikan itu tidak hanya pada pakan ternak tersebut tetapi juga dedak dan lainnya," ujarnya.
Mupu mengatakan, setiap ada kenaikan harga daging, selalu diikuti dengan kenaikan harga pakan.
"Kami tidak tahu secara persis apakah pabrik sengaja menaikkannya karena daging naik, atau karena ada faktor lain. Namun yang jelas peternak untungnya tipis pascakenaikan harga babi kali ini," katanya.
Pria asal Banjar Sala itu menambahkan, kenaikan harga memberikan imbas positif yang lain pada peternakan babi di Bangli.
"Beberapa peternakan yang sempat mengosongkan kandangnya sehubungan harga sebelumnya terus turun, sekarang telah memulai usahanya kembali," ucapnya menjelaskan.
Ia berharap harga babi tetap bertahan seperti sekarang. "Meski untung tipis, namun ternyata mamu mendorong peternak bangkit kembali," ucapnya.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.