"Berdasarkan catatan, kasus flu burung pada tahun lalu terungkap muncul di dua lokasi, sedangkan tahun ini berada di enam lokasi pada tiga kabupaten yang berbeda di Pulau Dewata," katanya di Denpasar, Senin.
Dia menjelaskan, tahun 2010 kasus flu burung muncul di dua lokasi Kabupaten Klungkung. Hasil penelusuran kasus ditemukan dua orang pasien terduga atau "suspect" virus itu dengan jumlah unggas yang positif hanya dua ekor.
Sedangkan pada kasus yang terjadi selama 2011 tidak ditemukan adanya "suspect" flu burung pada manusia, namun sebanyak 113 ekor unggas dinyatakan positif H5N1.
"Semua unggas dan ternak milik warga di enam lokasi berbeda yang dilaporkan mati mendadak sudah kami musnahkan, sebagai salah satu bentuk antisipasi penyebaran virus itu," ujarnya.
Menurut Sumantra, jika dilihat dari kasus yang terjadi 2003 sampai saat ini, munculnya kejadian pada tahun berangka ganjil diperkirakan lebih banyak dari tahun yang berangka genap.
"Hal itu berdasarkan hasil laporan yang kami terima. Pada tahun berangka ganjil jumlah unggas mati lebih tinggi dibandingkan tahun berangka genap, seperti 2007 dengan 291 ekor sedangkan 2008 hanya dua ekor ," ujarnya.
Namun dari kurun waktu 2003-2011, kasus unggas yang mati tertinggi terjadi pada 2003 dengan sekitar 200.000 ekor.
Mengenai penyebab kasus tersebut, kata dia, masih belum bisa dipastikan. Tetapi ada dugaan penyebaran virus itu berasal dari unggas yang dibawa dari luar Pulau Bali.
"Kami sedang melakukan tes laboratorium untuk mengetahui apakah ini virus lama yang muncul kembali karena perubahan cuaca ekstrem, ataukah virus jenis baru akibat masuknya unggas yang terinfeksi ke Bali," ujar Sumantra.
Untuk itu, lanjut dia, pihaknya bekerja sama dengan dinas terkait melakukan pengawasan terhadap arus lalu lintas hewan. "Arus ini harus diawasi dengan lebih ketat," katanya.
Kasus unggas mati mendadak pada 2011 terjadi di enam desa di wilayah Kabupaten Badung, Tabanan dan Kota Denpasar. Hasil penelusuran sebanyak 113 unggas positif penyakit mematikan itu, dan semua unggas yang mati telah dimusnahkan.
Selain pemusnahan, dilakukan juga penyemprotan dengan desinfektan pada kandang guna mencegah penyebaran virus pada unggas lain maupun pada manusia, katanya.(*)
: Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.