Denpasar (Antara Bali) - Wisatawan asal Jepang telah membatalkan sedikitnya sekitar 1.000 kamar di sejumlah hotel di Bali, menyusul bencana gempa dan tsunami di negeri itu, Jumat (11/3).

"Pembatalan kamar hotel itu awalnya tidak signifikan, tetapi kemudian melonjak mencapai sekitar 1.000 'room night', setelah dampak gempa dan tsunami juga membuat reaktor nuklir bocor," kata Koordinator Bali Tourism Board (BTB) Ida Bagus Ngurah Wijaya di Denpasar, Jumat.

Dijelaskan, sehari setelah terjadi bencana di Jepang, pembatalan kamar hotel di Bali tidak terlalu serius. Namun sejak hari keempat, wisatawan Jepang serentak membatalkan liburannya ke Pulau Dewata.

"Awalnya pembatalan kamar hanya sedikit, tapi hari keempat dan kelima langsung melonjak. Keseriusan itu terutama terkait bocornya reaktor nuklir," katanya.

Akibat pembatalan pesanan kamar tersebut, Ngurah Wijaya mengatakan, pihak hotel banyak yang mengalami kerugian. "Pasti ada kerugian, karena kamar yang sudah dipesan jauh-jauh hari sulit bisa dijual lagi," ujarnya.

Namun pihaknya mengaku menyadari terjadinya penurunan dan pembatalan pesanan hotel oleh wisatawan Jepang yang disebabkan bencana tersebut.

"Meskipun mengalami kerugian, namun kami memahami dan menyadari bahwa memang hal tersebut wajar dilakukan oleh warga Jepang karena di negaranya sedang terjadi bencana hebat," ungkapnya.

Ngurah Wijaya menambahkan, penurunan kunjungan wisatawan Jepang ke Bali tidak hanya setelah terjadi bencana gempa dan tsunami itu, melainkan juga berlangsung tahun 2009 - 2010, yakni mencapai 25 persen.

Untuk di Kawasan Sanur saja, katanya, wisatawan jepang diperkirakan hanya 20 persen dari total turis yang berasal dari berbagai negara.

Oleh karena itu, pihaknya sedang memikirkan langkah kedepan untuk kembali promosi ke Jepang, mengingat jumlah sebelumnya selalu menjadi yang terbanyak dibandingkan dari negara lain. Belakangan tergeser ke posisi kedua di bawah Australia.(*)


: Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026