Denpasar (Antara Bali) - Peneliti dari Politeknik Negeri Bali, Ida Bagus Putu Bintana mengatakan, instrusi air laut merupakan konsekuensi dari salah satu faktor penggunaan air tanah secara berlebihan di kawasan wisata Pulau Dewata.

"Intrusi air laut ke daratan akibat pengambilan air tanah berlebihan. Bahkan dari penelitian kami saat ini hampir seluruh pesisir pantai di Bali sudah terjadi intrusi air laut," katanya di Denpasar, Sabtu.

Ia mengatakan intrusi air laut yang paling parah ada di kawasan Sanur Kota Denpasar, Kuta, Jimbaran, Nusa Dua (Badung), dan Lovina di Kabupaten Buleleng. Maka tak heran air sumur masyarakat rasanya payau atau asin.

Bila hal itu tidak segera dimitigasi, maka Bali akan tergantung pada air salinasi dengan reverse osmosis yang sangat mahal.

"Salah satu cara pengembalian air tanah adalah dengan membuat sumur maupun biopori. Setelah ada sumur, air hujan atau air yang mengalir difilter dan kemudian dimasukan kembali ke dalam tanah," katanya.

Menurut Bintara, pemerintah setempat harus lebih proaktif dalam upaya mitigasi intrusi air laut. Dalam penelitian yang dilakukannya, hanya dengan biaya satu juta dolar Amerika Serikat (AS) sudah mampu membuat 150 sumur air hujan di 13 lokasi yang paling rawan intrusi air laut.

Dikatakan, lokasinya sudah teridentifikasi sesuai dengan tingkat keparahan intrusi air laut. Bila ini bisa direalisasikan maka dalam waktu cepat bisa mengembalikan tingkat air hingga 90 persen dalam lima tahun di areal yang mengalami krisis air bersih dan terancam intrusi air laut.

Bintara juga memberi solusi lain adalah perlu adanya regulasi soal pembatasan penggunaan air bawah tanah oleh pemerintah terhadap industri hotel dan restoran. Hotel-hotel perlu menggunakan air dari PDAM yang dikendalikan oleh pemerintah sehingga intrusi tersebut dapat dicegah. (WDY)

Pewarta: Oleh I Komang Suparta

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2015