Denpasar (Antara Bali) - Harga kakao di tingkat petani Bali naik menjadi Rp37.000 dari sebelumnya Rp34.000 per kilogram (kg) untuk jenis fermentasi dan Rp34.500 untuk jenis asalan dari sebelumnya Rp31.500 per kg.

"Kenaikan harga kakao baik di dalam maupun luar negeri, diharapkan menjadi pendorong bagi petani untuk lebih bergairah mengembangkan tanaman jenis kakao," kata Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Bali, I Dewa Made Buana Duwuran di Denpasar, Rabu.

Ia mengharapkan harga hasil perkebunan itu bisa naik lagi di awal 2015, untuk tingkat petani di Jembrana, Tabanan maupun Buleleng sebagai daerah penghasil kakao di Bali.

Dewa Buana menjelaskan naiknya harga kakao hasil petikan petani kebun itu berkat adanya pasar yang baik di daerah ini, terutama oleh para pengepul untuk memenuhi permintaan antarpulau terutama di Jawa Timur yang nantinya menjadi komoditas ekspor.

Dengan lancarnya perdagangan komoditas itu ke pasar ekspor dengan harga sesuai mekanisme pasar maka pendapatan petani bertambah sejalan dengan naiknya keperluan untuk berproduksi, sebagai dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, mencatat perolehan devisa dari kakao hasil perkebunan rakyat daerah itu selama Januari-Oktober 2014 menembus satu juta dolar AS atas pengapalan sebanyak 1.081 ton.

Perolehan devisa tersebut bertambah 55 persen jika dibandingkan periode yang sama 2013 yang hanya mencapai 709.968 dolar, dengan memasuki delapan negara konsumen, dan Amerika Serikat adalah negara pembeli terbanyak.

Di samping negeri Paman Sam, tercatat juga sebagai pembeli potensial adalah Australia, Inggris, Jerman, Filandia, Jepang dan Malaysia. Lancarnya perdagangan hasil perkebunan untuk bahan baku pabrik makanan itu diharapkan meningkatkan penghasilan petani di Bali.

Dewa Made Buana mengatakan ada tiga kabupaten yang mengembangkan tanaman kakao yang cukup potensial di daerah ini yakni petani pekebun di Kabupaten Tabanan seluas 5.063 hektare (ha), menyusul Jembrana, 3.555 ha, Buleleng 1.258 ha dan sisanya di Badung, Klungkung, Bangli dan Karangasem.

Bali memiliki lahan perkebunan relatif sempit sehingga harus dimanfaatkan untuk tanaman yang bernilai ekonomi tinggi, dengan harapan mampu menambah penghasilan pekebun dan lebih menyejahterakan seperti kopi, kakao, vanili, cengkih termasuk mete yang ditanam di lahan kering. (WDY)

Pewarta: Oleh I Ketut Sutika

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2014