Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencatat inflasi Bali di bulan April 2026 secara bulan ke bulan tergolong rendah meski terjadi peristiwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terdampak konflik Timur Tengah.

Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar, Selasa, menyebut adapun inflasi Bali selama April 2026 sebesar 0,01 persen.

“Banyak yang bertanya-tanya kenapa inflasinya relatif rendah di tengah dinamika global yang demikian hangat, itu karena ada beberapa komoditas yang ternyata mampu menjadi penahan besaran laju inflasi yang disebabkan oleh pengaruh global,” kata dia.

Dari catatan BPS Bali, saat April 2026 terjadi kenaikan harga komoditas akibat dari konflik Timur Tengah seperti bahan baku nafta untuk produksi plastik yang membuat harga plastik di pasaran mengalami kenaikan cukup tinggi.

Selain itu yang paling terpengaruh adalah kenaikan harga BBM, dimana pemerintah bulan lalu mengumumkan adanya kenaikan BBM non-subsidi di antaranya Pertamax Turbo naik dari Rp13.100 menjadi Rp19.400, Solar Dexlite dari Rp14.200 menjadi Rp23.600, Pertamina Dex dari Rp14.500 menjadi Rp23.900.

“Selain itu juga ada kenaikan harga LPG yang non-subsidi untuk yang tabung 12 kg dan 5,5 kg yang dimulai pada tanggal 18 April yang lalu,” ujar Agus Gede.

BPS Bali juga mencatat kenaikan harga avtur yang mendorong adanya kenaikan biaya operasional untuk pesawat dan akhirnya memberikan pengaruh pada kenaikan harga tiket pesawat.

Meski terjadi kenaikan harga pada bahan bakar, penurunan harga komoditas bahan makanan membuat inflasi di Pulau Dewata tidak besar.

Sejumlah komoditas yang tercatat mengalami penurunan harga utamanya komoditas di kelompok bahan makanan minuman seperti cabai rawit.

“Jadi harga cabai rawit mengalami penurunan setelah fluktuasi yang cenderung meningkat dari November 2025, jadi kalau dilihat dari November 2025, harga cabai rawit itu sebenarnya cenderung meningkat tapi di bulan lalu harganya itu turun dibandingkan bulan sebelumnya,” kata Agus Gede.

Hal ini dikarenakan saat Maret 2026 terjadi inflasi cukup besar akibat permintaan tinggi perayaan Lebaran dan Nyepi, sehingga dari Maret ke April cenderung terlihat penurunan.

Senada dengan itu, jika dilihat berdasarkan kelompok pengeluaran, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu kelompok yang menghambat terjadinya inflasi atau mengalami deflasi 0,66 persen.

“Karena kelompok ini memberikan kontribusi atau memiliki bobot yang tinggi dan andilnya besar, sehingga laju inflasi kita menjadi relatif rendah, seandainya kelompok ini tidak mengalami deflasi mungkin inflasi kita cenderung sangat tinggi,” ucapnya.

Sementara kelompok lainnya mengalami inflasi seperti kelompok transportasi dengan inflasi 0,8 persen; pakaian dan alas kaki inflasi 0,25 persen; perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga inflasi 0,16 persen.

Kemudian kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga inflasi 0,09 persen; kesehatan inflasi 0,3 persen; dan informasi, komunikasi, dan jasa keuangan inflasi 0,46 persen.

Jika dibedah berdasarkan komoditasnya, penyumbang utama inflasi adalah kelompok angkutan udara dengan inflasi 32,74 persen dengan andil 0,08 persen, disusul beras inflasi 1,16 persen dengan andil 0,06 persen, minyak goreng inflasi 3,19 persen dengan andil 0,05 persen.

Sementara penghambatnya cabai rawit dengan deflasi 27,63 persen dan andil terhadap deflasi 0,22 persen, daging ayam ras deflasi 4,77 persen dengan andil terhadap deflasi 0,14 persen, dan sawi hijau deflasi 19,86 persen dengan andil terhadap deflasi 0,03 persen.

Berdasarkan besaran inflasi di kota IHK, maka BPS Bali mencatat April 2026 secara bulan ke bulan di Singaraja terjadi deflasi 0,08 persen, Tabanan deflasi 0,17 persen, Badung deflasi 0,17 persen, sedangkan Denpasar inflasi 0,19 persen.

Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari

Editor : Ardi Irawan


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2026