Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali merespons seruan bersama terkait Hari Raya Nyepi yang berpotensi bersamaan dengan malam takbiran jelang Idul Fitri.
“Intinya kalau usulan kami pakai acuan dari SKB (surat keputusan bersama) tiga menteri itu saja, jangan ribet-ribet karena SKB itu Idul Fitri di tanggal 21 dan 22 Maret sedangkan Nyepi kan tanggal 19 tidak ada jadinya (bersamaan Takbiran),” kata Ketua PHDI Bali I Nyoman Kenak di Denpasar, Rabu.
Usai pertemuan organisasi-organisasi keagamaan di Bali itu, PHDI Bali menyampaikan pihaknya hanya mengusulkan agar menjadikan SKB tiga menteri sebagai acuan sehingga riak-riak di masyarakat tak berlanjut.
Namun dengan keputusan akhir bahwa seruan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali tidak diubah yaitu tetap mengizinkan takbiran dengan berjalan kaki dan tanpa pengeras suara jika bertepatan Nyepi, maka perlu alternatif agar tidak ada pelanggaran atau penodaan terhadap kegiatan penyepian di Bali.
PHDI Bali sepakat dengan alternatif agar seluruh pimpinan organisasi keagamaan di Bali membuat seruan masing-masing, sehingga umatnya tertib menjalankan Hari Raya Nyepi.
Senada dengan hal tersebut, Ketua MUI Bali Mahrusun Hadyono akan meminta Muslim di Bali menghormati pelaksanaan Hari Raya Nyepi.
Apabila hasil Sidang Isbat menunjukkan 1 Syawal jatuh pada 20 Maret ia menekankan agar Muslim melakukan aktivitas keagamaan terbatas di Hari Nyepi.
“Ke masjid ya masjid terdekat, mushala terdekat, tarawih jalan kaki tidak menggunakan bunyi-bunyian apapun termasuk pengeras suara, dan penggunaan lampu di tempat ibadah terbatas, jadi selesai melaksanakan tarawih atau takbir langsung pulang jadi sepi lagi,” ujarnya.
MUI Bali mengingatkan bahwa sejatinya saat malam takbiran umat cukup beribadah ke masjid dan jika jauh tidak harus ke masjid karena dapat menjalankan ibadah di rumah masing-masing.
Dengan kembali ke konsep ibadah ini, maka menurut dia semestinya dua hari raya besar keagamaan ini bisa berjalan baik, apalagi sejak dahulu seluruh umat beragama di Bali hidup berdampingan dan menjunjung toleransi yang tinggi.
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2026