Indonesia menjadi negara ke-62 yang meluncurkan TiE Indonesia sebagai wadah bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal membangun usaha hingga sampai ke pasar global, dan dilahirkan di Bali bersamaan dengan diskusi Forum Tri Hita Karana.

Dalam peluncurannya, di Denpasar, Minggu, hadir Dewan Pembina TiE Global Amit Gupta, Presiden United In Diversity (UID) Foundation Tantowi Yahya, Deputi Bidang Perekonomian Kementerian PPN/Bappenas Amalia Adininggar Widyasan, dan utusan Presiden G20 Bali Global Blended Finance Alliance Mari Pangestu.

Tantowi Yahya mengatakan, setelah ini mereka akan mengumpulkan UMKM yang serius untuk melangkah ke pasar global, dan akan diberikan pencerahan serta akses koneksi seluas-luasnya.

“Kita tahu di seluruh dunia pilar dari ekonominya salah satunya UMKM, dan Indonesia kurang lebih 80 persen pilarnya berbasis UMKM jadi ini adalah model bisnis yang harus didukung, dengan pembiayaan, pendidikan, pembukaan akses, sehingga mereka menjadi pemain besar dunia,” kata dia, di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-kura Bali.

Dalam menjalankan TiE Indonesia, UID dan Forum Tri Hita Karana sebagai rekan pemerintah mengulas langkah yang bisa membantu kemajuan UMKM Tanah Air, salah satunya dengan nanti menerapkan konsep global blended finance, sebuah konsep pembiayaan yang lahir saat G20 lalu.

“Bisa diterapkan ini, salah satunya membuka kesempatan pembiayaan dari sumber-sumber yang selama ini tidak bisa disentuh misalnya dari swasta, filantropis, dan dana publik sebagaimana konsep blended finance sendiri,” ujar Tantowi.

Menurutnya, dengan tenaga kerja muda, bertalenta, paham teknologi, dan lingkungan yang kondusif akan membuat Indonesia mampu menjadi pusat inovasi berkelanjutan dan inklusif dengan banyaknya startup dan penciptaan unicorn dan decacorn yang akan semakin mendorong pertumbuhan ekonomi.

Dewan Pembina TiE Global Amit Gupta bahkan meyakini TiE Indonesia mampu melangkah lebih cepat dari negara lain.

“Iya mengingat besarnya pasar dan semangat kewirausahaan yang kami lihat dan kepemimpinan di Indonesia yang dinamis, orang-orang dengan latar belakang dan pengalaman relevan yang luar biasa. Kami yakin ini adalah pasar yang akan mendorong pertumbuhan terbesar di Asia Tenggara,” kata dia lagi.

Selanjutnya, mereka akan memahami terlebih dahulu ekosistem kewirausahaan yang beragam di Indonesia, dan mendorong konektivitasnya karena UMKM di Indonesia dinilai memiliki ukuran dan skala yang luas.

“Jadi apa yang ingin kami lakukan adalah mencoba menemukan cara untuk mendorong konektivitas antara berbagai ekosistem dengan Indonesia yang benar-benar dapat membantu memberikan dampak yang lebih kolektif,” ujar Amit Gupta.

CEO Ecosystm Group itu, juga akan memberikan pendampingan dalam hal investasi dan program inklusivitas bagi pengusaha Indonesia, seperti halnya pengusaha menengah di 61 negara terdahulu yang kini jumlahnya lebih dari 15 ribu anggota.

Di Indonesia sendiri, wadah ini akan berpusat di Kampus UID, KEK Kura-kura Bali, karena Pulau Dewata menjadi lokasi lahirnya Forum Tri Hita Karana dan dinilai sebagai daerah yang konsisten dalam upaya menjaga segala ekosistem yang sifatnya berkelanjutan.


Baca juga: Pemuteran Bay Festival 2023 padukan keindahan dan konservasi lingkungan

Baca juga: BPD Bali perluas pola pembiayaan UMKM dengan bunga terjangkau

Baca juga: Bupati Tabanan buka Dajan Peken Festival dorong kreasi anak muda

Baca juga: Pemkab Buleleng dampingi UMKM gunakan pemasaran digital


 

Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari

Editor : Widodo Suyamto Jusuf


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2023