Kantor Staf Presiden (KSP) menyatakan pengelolaan sampah di Desa Punggul, Kabupaten Badung, Bali, dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.

"Kami mengharapkan ada lebih banyak lagi daerah yang bisa mencontoh Desa Punggul. Ini contoh nyata mengubah sampah menjadi berkah,” kata Tenaga Ahli Utama Kedeputian I KSP Trijoko M Solehoedin di Badung, Bali, Jumat, sebagaimana keterangan diterima di Jakarta.

Trijoko mengatakan desa di Kecamatan Abiansemal tersebut berhasil mengelola sampah secara tuntas, seperti menghasilkan produk ekonomi sirkular. Menurut dia, dengan cara seperti itu, lingkungan menjadi terjaga dan masyarakat sejahtera.

Sementara itu, Kepala Desa Punggul Kadek Sukarma mengemukakan pengelolaan sampah di Desa Punggul berawal dari keprihatinan melihat pintu masuk desa yang terkesan sengaja dijadikan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar. Bahkan terdapat warga di luar Kabupaten Badung yang ikut membuang sampah di situ.

Setelah beberapa tahun, kata dia, desa yang memiliki moto “Sampah Desa Tuntas di Desa” ini berhasil menjadi salah satu desa terbersih di tingkat nasional. Hal ini dilakukan dengan kerja serius program-program seperti Bank Sampah, TPS 3R (Reduce-Reuse-Recycle), dan Tong Edan. Pemerintah desa juga turut dibantu oleh Bhabinkamtibmas dan Babinsa untuk rutin melakukan sosialisasi dan edukasi kepada warga.

Menurut Kadek, permasalahan sampah di Desa Punggul berawal dari rumah tangga sehingga penyelesaiannya pun harus diawali dari rumah tangga. Untuk itu, setiap rumah diminta memilah sampah menjadi plastik dan non-plastik. Sampah plastik diangkat setiap hari Selasa, dan sampah non-plastik diangkat setiap hari Jumat secara gratis.

Di setiap rumah tangga juga disediakan Tong Edan, di mana sisa atau limbah makanan dimasukkan ke dalam Tong Edan kemudian disemprotkan dengan cairan liang setiap hari. Ini dilakukan untuk mengurangi bau dan nantinya dapat digunakan sebagai pupuk cair dan kompos untuk tanaman di rumah.

Semua sampah yang ada hari itu diproses tuntas hari itu juga di TPS 3R. Proses pengolahan sampah kemudian menghasilkan produk ekonomi sirkular seperti suvenir, benda kerajinan, ukiran, dan lain sebagainya.

"Kami tidak membiarkan sampah ditumpuk kecuali sampah plastik yang dikumpulkan dalam keadaan bersih, sehingga sampah tidak menimbulkan bau kemana-mana," kata Kadek.

Desa Punggul juga merupakan Desa Program Komunitas Iklim (Proklim) yang merupakan program pengendalian perubahan iklim di tingkat tapak. Program ini dikembangkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Pengendalian dan Perubahan Iklim (PPI).

Kunjungan kerja tim Kantor Staf Presiden ke Desa Punggul untuk meninjau langsung pelaksanaan program Kampung Iklim (Proklim). Program yang diluncurkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) ini merupakan program sinergi aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang berlingkup nasional. Tujuannya meningkatkan keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan lain untuk penguatan kapasitas adaptasi dan penurunan emisi gas rumah kaca.



Baca juga: Pemkot Denpasar upayakan lebih banyak truk sampah masuk TPA Suwung

Baca juga: Pengolahan TPST Kertalangu tak maksimal akibat spesifikasi RDF berubah

Baca juga: Gubernur Bali tagih komitmen operasional pengelola TPST Kertalangu

Baca juga: Pemkab Badung awasi pemilahan sampah dari sumbernya

Baca juga: Belajar menuntaskan persoalan sampah dari Desa Adat Seminyak

Pewarta: Indra Arief Pribadi

Editor : Widodo Suyamto Jusuf


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2023