Bank Rakyat Indonesia melalui program BRI Peduli menjadikan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Sadu Kencana Desa Dauh Peken, Kabupaten Tabanan, Bali, sebagai percontohan pengelolaan dan pemilahan sampah.

Regional CEO BRI Denpasar Recky Plangiten di Denpasar, Rabu, berharap, bantuan dari BRI dapat berdampak positif bagi produktivitas TPS3R Sadu Kencana dalam menyelesaikan permasalahan sampah di Desa Dauh Peken.

"Hal ini sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemilahan dan pengelolaan sampah dari rumah tangga," ujar dia dalam keterangan tertulis.

Selain itu, kata dia, pengelolaan sampah secara mandiri juga sebagai upaya menyelamatkan Bumi dari bahaya sampah.

Perbekel (Kepala) Desa Dauh Peken I Komang Sana Yasa mengatakan program pengelolaan sampah telah dicanangkan pada 2012 oleh kepala desa sebelumnya.

Sejak dilantik menjadi perbekel, ia melanjutkan salah satu visi misi mantan kades, yakni menciptakan desa hijau bersih sehat, dengan mengendalikan sampah.

Dia mengaku berhasil menambah bank sampah di Desa Dauh Peken dari satu menjadi enam unit saat ini.

Di tengah upaya meningkatkan pengelolaan sampah yang lebih baik, pada 2015 pihak pemerintah desa mengajukan ke Dinas PUPR Bali untuk mendirikan TPS3R.

TPS3R Sadu Kencana memiliki beberapa kegiatan pengolahan sampah, di antaranya mengolah sampah organik (sisa canang dan sampah daun) menjadi pupuk organik, memanfaatkan sampah buah, sayur, dan sisa makanan dari masyarakat untuk ternak maggot, menjadi bank sampah induk bagi banjar-banjar, sekolah, dan kelompok masyarakat setempat.

Selain itu, memberikan edukasi ke sekolah-sekolah tentang pentingnya reduce (mengurangi sampah), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (daur ulang) demi kelestarian alam,  menjalin rekanan dengan sekolah dan instansi di desa itu, sebagai anggota TPS3R Sadu Kencana agar lebih banyak yang sadar memilah sampah dengan baik dan benar.

Kendati demikian, dalam melaksanakan program-program tersebut, pengelola TPS3R Sadu Kencana menghadapi beberapa kendala.

"Kendala berupa kurangnya kendaraan pengangkutan sampah, bangunan TPS3R yang sudah mulai kurang layak dan fasilitas pendukung lainnya seperti bank komposter dan kantong pemilahan untuk pelanggan," ujarnya.

Melalui program BRI Peduli, TPS3R Sadu Kencana mendapatkan bantuan kendaraan operasional pengangkutan sampah, renovasi bangunan kantor, pengadaan bak komposter, dan kantong pemilahan sampah.

"Dengan adanya bantuan BRI yang mendampingi Desa Dauh Peken, pola penjemputan sampah ke rumah-rumah warga menjadi terarah," kata dia.

Menurut dia, hal ini dapat dilihat dari antusias masyarakat Dauh Peken untuk ikut menjadi pelanggan TPS3R dengan pola pemilahan. Hingga saat ini ada penambahan data 200 pelanggan yang mulai sadar untuk memilah sampah.

Ketua TPS3R Sadu Kencana Ni Putu Suarlin menambahkan TPS yang dikelola sempat mendapatkan bantuan dari pemerintah pada 2015. Namun, seiring berjalan waktu, pengelola TPS masih menemui beberapa kendala, salah satunya dari sisi tingkat kesadaran masyarakat yang masih minim dalam hal memilah dan mengolah sampah dari sumbernya.

"Jika pola pengelolaan sampah 'angkut buang' saja, maka tempat pembuangan akhir (TPA) yang sudah penuh dengan sampah akan semakin bertambah. Sangat penting untuk memilah sampah sebelum dibuang ke TPA. Gunanya, agar tidak terjadi penimbunan sampah," katanya.

Oleh karena itu, pihaknya mulai mencoba memberikan pemahaman bahwa menyelamatkan sampah plastik bukan hanya untuk mendapatkan hasil, tetapi untuk menyelamatkan Bumi agar lebih lestari.

Pewarta: Ni Luh Rhismawati

Editor : Adi Lazuardi


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2023