Perempuan pada umumnya terbiasa dengan pekerjaan domestik sejak usia belia. Bahkan, perempuan juga masih dibebani pekerjaan ganda dibandingkan laki-laki.

Ia bukan saja dituntut menguasai tugas rumah tangga seperti memasak, mencuci baju, mengurus rumah, dan lain sebagainya dengan harapan agar ketika perempuan tersebut siap menempuh hidup baru, mereka akan dapat mengurus keluarga barunya.

Fenomena tersebut berlanjut hingga kini, terutama di Indonesia yang notabene secara umum adalah negara yang masih menganut budaya patriarki. Hal ini akan terekam di benak masyarakat, dengan menganggap pria lebih kuat dan berkuasa dalam segala hal.

Dari adanya budaya patriarki, perempuan terbelenggu pada pemberian label sebagai manusia yang kodratnya berada di “dapur, sumur, dan kasur”. Stigma tersebut sudah tidak asing lagi khususnya pada masyarakat Indonesia.

Menilik pada jumlah perempuan di Indonesia, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik tahun 2022, jumlah perempuan Indonesia tercatat 136,38 juta jiwa atau 49,45 persen dari total penduduk.

Dari seratus juta lebih perempuan tersebut, salah seorang di antaranya berada di Pulau Bali. Namanya Ni Luh Sinta Yani, asal Tejakula, Kabupaten Buleleng. Perempuan yang akrab disapa Sinta itu dijuluki Kartini Milenial karena terlibat aktif dalam berbagai kegiatan, baik organisasi, sosial, maupun pendidikan.

Menurut dia, hingga saat ini perempuan masih didiskreditkan oleh masyarakat. Budaya dan sistem patriarki yang masih ada menjadikan perempuan sebagai individu kelas kedua yang dipandang sebelah mata.

Dari buku-buku yang Sinta baca,  semakin membuka pemikirannya.  Di zaman manusia nomaden, di mana pada saat itu laki-laki yang bertugas untuk berburu dan perempuan yang mengolah hasil buruannya, itu kemudian melahirkan stigma dapur, sumur, dan kasur kepada perempuan.

Setelah merasakan pengalaman hidup yang penuh tantangan, akhirnya Sinta menyadari bahwa stigma tersebut sudah tidak dapat relevan dengan zaman kiwari.

“Stigma tentang dapur, sumur, dan kasur sudah tidak relevan lagi, apalagi zaman saat ini. Posisi perempuan dan laki-laki itu setara. Yang menjadi kodrat perempuan itu kan cuma, menstruasi, mengandung, melahirkan, dan menyusui yang jelas-jelas tidak bisa dilakukan oleh laki-laki," ujar Sinta, pekan lalu.

Sinta juga mengungkapkan bahwa perempuan memiliki kebebasan dalam memperoleh pendidikan tinggi, meniti karier dan masa depannya. Perempuan tidak seharusnya dikekang oleh siapa pun karena mereka juga merupakan insan yang memiliki hak. Jika pihak lain mencoba untuk mengurung kebebasan perempuan, baginya akan melanggar hak asasi manusia (HAM).


Semangat Emansipasi

Semangat Sinta dibuktikan dengan kiprahnya sebagai Ketua Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Pimpinan Cabang Buleleng periode 2021-2023, yang kemudian membuat dirinya mendapatkan banyak pengalaman, ilmu, dan jejaring yang luas. Menurutnya, perempuan sangat layak untuk menjadi seorang pemimpin.

“Menjadi seorang pemimpin di sebuah organisasi itu adalah salah satu bukti bahwa memang perempuan itu punya kesempatan yang sama, kemampuan yang sama juga dengan laki-laki. Bahkan secara pribadi, perempuan pemimpin itu lebih memiliki empati dibandingkan laki-laki pemimpin," ujarnya menegaskan.

Berangkat dari pengalaman tersebut, Sinta kini dipercaya untuk mengisi berbagai kegiatan kepemudaan sebagai pembicara. Namanya sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Buleleng khususnya bagi para insan muda.

Ia menggelorakan semangat perubahan untuk generasi muda seperti kepemimpinan, manajemen organisasi, hingga pelatihan persidangan untuk pembuatan regulasi pada organisasi. Sinta juga menyebut dirinya haus akan ilmu dan pengalaman. Tidak pernah ada kata lelah yang keluar dari ucapannya.

Tidak berhenti di situ saja, ia pun menjajaki pengalaman baru sebagai Panitia Pengawas Kecamatan (PPK) Kabupaten Buleleng sambil melanjutkan pendidikan magister di Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Perempuan berdarah Buleleng ini dapat melewati tahap seleksi dan diterima hanya dalam waktu seminggu saja. Padahal seleksi PPK tersebut termasuk cukup sulit untuk ditembus. Sinta mulai membentuk pribadinya untuk menjadi salah satu tonggak perubahan bangsa, dengan bermodalkan asa dan cita-cita yang mulia, yakni untuk mengabdi kepada Buleleng tercinta.

“Apa pun kesempatan yang saya lihat itu pasti akan saya coba, mau gagal mau berhasil, yang penting coba dulu”, kata Sinta.

Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa ketika perempuan yang hanya disuruh duduk manis di rumah, kini berkontribusi untuk Pemilu 2024.

Baginya, ini adalah wujud patriotisme untuk “ngayah” atau bekerja dengan tulus dan ikhlas tanpa mendapatkan imbalan material di kampung tercinta.

Ia menjadi tahu tentang apa itu pemilu beserta tahapan selanjutnya dan lebih banyak mengedukasi masyarakat tentang Pemilu.

Masih banyak hal lainnya yang bisa didapatkan dari Kartini Muda Buleleng ini, salah satunya adalah, baru saja ia terpilih menjadi Duta Ekonomi Biru untuk memperjuangkan pembangunan menuju Indonesia Emas 2045. Sinta ingin merangkul masyarakat dan berguna untuk negaranya. Oleh karenanya, ia memiliki beban ganda dalam melakukan kewajibannya.


Kontribusi

Sebagai wanita pejuang emansipasi, Sinta berpendapat penting untuk mengelola waktu. Bagi perempuan, hal tersebut akan membuat mereka semakin percaya diri dan meraih prestasi yang gemilang. Itu akan membuktikan mereka dapat secara perlahan menghilangkan stigma-stigma negatif tentang perempuan  sehingga derajat perempuan akan dipandang setara.

Terlebih lagi Sinta adalah seorang yang kritis dan mampu berpikiran terbuka, banyak hal yang ia lakukan selama ini. Baginya, masa muda tidak boleh disia-siakan begitu saja, karena mereka dapat melakukan apa pun saat masih muda.

Sinta pun menggali ilmu dari mana saja. Lingkungannya selalu dapat memberikan ilmu dan pembelajaran hidup untuk terus melangkah. Kontribusinya sebagai pemimpin di KMHDI Buleleng menumbuhkan jiwa seorang pemimpin yang mengayomi anggotanya.

Ia pun tidak melupakan kewajibannya sebagai anak dan kakak dalam keluarganya. Rasa saling mendukung dan kebersamaan, serta berbagi ilmu yang dapat diimplementasikan pada masyarakat diharapkan semakin menginspirasi perempuan muda Indonesia.

Salah satu rekan organisasinya, yakni Devi Mahayoni mengaku bahwa sosok Kartini Muda ini adalah sosok yang tangguh.

“Dia perempuan dan dia ngambil banyak pekerjaan. Apalagi dia juga jadi ketua, kalau ada kerjaan diambil, terus juga sambil kuliah. Akan tetapi dia tetap bisa bagi waktu, ya cewek tangguh gitu.” Jelas Devi.

Dirinya juga menyadari bahwa perempuan tersebut dapat berperan vital untuk menjadi tonggak pergerakan bangsa. Kodrat perempuan hanya menstruasi, melahirkan, dan menyusui. Selebihnya para pria patut membantu meringankan pekerjaan perempuan. Menghormati perempuan dengan membiarkan mereka berekspresi dan menggapai cita-citanya adalah hal yang mulia.

Seiring berjalannya waktu, Sinta sudah dapat menilai bahwa mulai terdapat perubahan budaya tersebut, seperti para perempuan sudah dapat menjadi pemimpin, menteri, direktur perusahaan besar, manajer, dan lain sebagainya.

Hal ini harus tetap didukung agar kesetaraan gender tetap berjalan. Ia percaya perempuan itu tangguh.

Jangan pernah bertaruh untuk menundukkannya pada dapur, sumur, dan kasur.

Pewarta: Putu Shinta Aiswarya

Editor : Widodo Suyamto Jusuf


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2023