Masyarakat perlu konsisten menerapkan pola hidup sehat, salah satunya makan bergizi sehat dan berimbang agar tetap sehat, seiring dengan pencabutan PPKM dan Indonesia bersiap memasuki endemi, menurut pakar gizi klinik dr Eva Kurniawati, M.Gizi, Sp. GK.
 
Eva yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PDSGKI) itu mengatakan masyarakat perlu memiliki kesadaran bahwa kesehatan adalah anugerah Tuhan dan menjaganya merupakan tanggung jawab sebagai penerima anugerah itu.

"Tetapkan goal, apa saja yang kita mau capai atau lakukan dengan kondisi sehat yang ada dan ingat goal ini kalau sudah melenceng," kata dia kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Eva yang juga anggota tim dokter spesialis RS PELNI mengingatkan pentingnya masyarakat disiplin mengingat panjangnya proses, agar bisa konsisten menerapkan pola hidup sehat serta bertanggung jawab menjaga kesehatan.



"Karena prosesnya panjang, tidak ada yang instan dan tidak seperti makan cabai sekali gigit lalu bisa dapat rasa pedasnya," kata dia yang menyarankan masyarakat mencari komunitas yang bisa membangun kebiasaan-kebiasaan baik.

Berbicara mengenai pola makan sehat dan berimbang, masyarakat bisa berpedoman pada Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan guna menjaga tubuh tetap sehat dan terhindari dari berbagai penyakit tidak menular terkait gizi. Pedoman ini merupakan kelanjutan dari kampanye Tumpeng Gizi Seimbang pada 2013.

"Untuk diet sehat dan seimbang, selain (pola) makan tetap harus miliki berat badan sehat berarti kisaran IMT-nya 18,5 - 22,9. Kita punya tumpeng makanan, sudah mulai diatur garam, gula dan lemaknya," tutur Eva.

Pedoman Isi Piringku mengacu pada pembagian piring makan yakni 2/3 makanan pokok, 1/3 lauk pauk, 2/3 sayur dan 1/3 buah, ditambah minum air delapan gelas per hari, melakukan aktivitas fisik 30 menit dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Selain pola makan dan aktivitas fisik, Eva juga mengingatkan masyarakat untuk beristirahat cukup, mengelola stres dan memeriksa kesehatan secara berkala seperti gula darah, kolesterol, tinggi dan berat badan dan lingkar perut. Cara ini juga bermanfaat mencegah terkena penyakit kronis seperti diabetes.
 
 
"Enyahkan asap rokok, rajin berolahraga kalau yang dari pradiabetes itu bisa mengurangi risiko untuk jadi diabetes 40 persen. Jadi harus konsisten rajin berolahraga," kata dia.

Berkaca pada pandemi COVID-19 tiga tahun terakhir, Eva mencatat banyak orang yang asupan kalorinya lebih banyak daripada keluaran energi. Mereka yang bekerja dari rumah atau work from home (WFH) dapat bolak-balik ke dapur atau ruang makan untuk menyantap camilan.

"Ditambah adanya kemudahan memesan makanan dan minuman lewat aplikasi. Abai untuk asupan gula, lemak dan pemenuhan serat," kata dia.

Namun, menurut dia ,ada juga sebagian orang memanfaatkan momen ini untuk memiliki pola hidup yang lebih sehat.

"Karena tidak usah ke kantor pagi, jadi sempat berolahraga dan memasak makanan sendiri," demikian tutur Eva.


 

 

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa

Editor : Adi Lazuardi


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2023