Oleh I Ketut Sutika

Denpasar (Antara Bali) - Bali tiada hari tanpa aktivitas ritual dan kegiatan itu mempunyai kaitan erat dengan seni yang mampu memberikan getaran dan sinar kedamaian, sekaligus  kesejukan setiap hati sanubari umat manusia.

Kegiatan ritual, terutama pada Hari Raya Galungan, hari Kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (keburukan) yang dirayakan setiap 210 hari sekali, ditandai dengan pementasan kesenian barong, rangda  atau jenis kesenian sakral lainnya  pentas "ngelawang" yakni pindah-pindah  dari satu tempat ke tempat lainnya.

Tradisi "ngelawang" yang diwarisi secara turun temurun itu bermakna untuk menetralisir alam semesta, menolak segala jenis penyakit yang mengganggu kehidupan manusia, termasuk secara niskala mengusir orang-orang yang bermaksud jahat, menggangu keamanan Bali.

Eksotisme sebuah pentas seni komunal  yang biasa dipentaskan di depan pintu masuk pekarangan rumah penduduk tampil memeriahkan Pesta Kesenian Bali (PKB) XXXIV tahun 2012.

Memasuki hari ke-16 (26/6) pelaksanaan PKB, seni "ngelawang" selain menyuguhkan hiburan yang unik dan menarik  juga diyakini mampu memberi vibrasi kesucian, sehingga penduduk terhindar dari marabahaya,  penyakit atau hal-hal lain yang tidak diinginkan.

Duta seni dari Kabupaten Buleleng, Klungkung, Gianyar dan Kabupaten Bdung mampu menyuguhkan pementasan yang unik dan menarik, berlangsung secara sporadis menyimak ruang dan menerobos waktu, karena pentas itu berpindah-pindah di kawasan Taman Budaya Denpasar, tempat berlangsung aktivitas seni tahunan yang berlangsung sebulan penuh, 10 Juni - 9 Juli 2012.

Duta seni Kabupaten Buleleng dalam pentas "ngelawang" itu mengusung tema "Ruatan massal", agar umat manusia terhindar dari pengaruh  kekuatan jahat "buta kala", Meskipun sama-sama menyuguhkan pentas "ngelawang", namun tiga duta seni lainnya tampil beda.

Bahkan duta seni Kabupaten Klungkung menyuguhkan pagelaran keliling itu agak unik, dengan mengusung cerita tentang dua anak Ida Sanghyang Pasupati, yakni Dewi Danu dan  Hyang Putran Jaya.

Keduanya terlibat dalam pertikaian sengit, setelah terjadi perselirihan, sehingga memicu terjadinya pertarungan sengit karena sama-sama sakti. Dewi Danu maupun Hyang Putran Jaya berubah wujud masing-masing menjadi barong dan rangda.

Parade "ngelawang", merupakan salah satu dari enam kegiatan  PKB, sebagai upaya memperlihatkan greget aktivitas seni tahunan, sekaligus memotivasi seniman untuk melangkah lebih maju, sesuai perkembangan zaman, tanpa menghilangkan esensi kehidupan berkesenian, tutur Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Ketut Suastika.

Upaya tersebut diharapkan mampu memunculkan rasa terus mengisi diri dengan berbagai pengalaman dan pengetahuan dalam menghadapi arus komunikasi yang semakin terbuka serta memberikan ruang kepada kelompok masyarakat berkompetisi secara sehat, dengan menumbuhkan semangat berkreativitas menghasilkan karya seni inovatif.

Pementasan duta seni yang diiringi alunan instrumen musik tradisional Bali (gamelan ) dari keempat kabupaten/kota  itu secara bergantian keliling di kompleks Taman Budaya Denpasar mampu menarik perhatian ribuan penonton.

Seni ngelawang sengaja diberikan ruang dalam pelaksanaan PKB, agar jenis kesenian itu tetap lestari dan berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat Pulau Dewata.

Nuansa Galungan

Pentas "Ngelawang" bernuansa Galungan, karena biasa dipentaskan sekitar dua minggu sebelum Galungan, hari suci umat Hindu dalam memperingati kebaikan (dharma) melawan Adharma (keburukan) hingga hari raya Kuningan.

Pengamat sekaligus pelaku seni Kadek Suartaya, SS Kar, MSi menilai, seni ngelawang di Bali mestipun tidak punah, namun pementasan bertepatan dengan hari raya terbesar umat Hindu di Bali   semakin jarang, padahal pentas seni nomadan   pada tahun 1970-an, mengkristal menjadi peristiwa kesenian yang mewarnai Galungan.

Pertunjukan keliling yang menyuguhkan puspa ragam seni tradisi Bali dalam beberapa tahun terakhir  digerus perubahan zaman, sehingga sulit menemukan sekaa seni pertunjukan tampil penuh keintiman di tengah masyarakat lingkungannya.

Seni ngelawang memiliki makna melanglang lingkungan.  Pada awalnya ngelawang adalah sebuah ritus sakral yang magis disangga oleh psiko-relegi yang kuat, tutur Suartaya yang juga dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Benda-benda keramat seperti barong dan rangda misalnya diusung ke luar pura berkeliling dalam lingkungan banjar atau desa yang dimaknai sebagai bentuk perlindungan secara niskala kepada seluruh masyarakat.

Kehadiran benda-benda yang disucikan itu ditunggu-tunggu oleh masyarakat , bahkan warga  yang dapat memungut bulu-bulu barong atau rangda yang tercecer, dengan penuh keyakinan, menjadikannya obat mujarab atau jimat bertuah.

Tradisi ngelawang dalam konteks sakral magis sebagai persembahan penolak bala seperti makna pentas ngelawang saat Hari Raya Galungan.  Namun dalam perkembangannya  masyarakat Bali yang kreatif tidak hanya ngelawang mengusung benda-benda sakral, namun dibuat tiruannya untuk disajikan sebagai ngelawang tontonan.

Dalam tradisi ngelawang Galungan tersebut, bentuk-bentuk seni "balih-balihan" seperti arja, janger, atau joged  juga dapat disaksikan  masyarakat sebagai hiburan. Masyarakat yang haus hiburan menstimulasi pentas ngelawang menjadi wahana berkesenian yang konstruktif.

Sebagai seni tontonan, ngelawang menurut Suartaya merupakan suguhan seni pentas yang serius, namun  santai.   Untuk mengapresiasinya penonton  tidak harus duduk kaku,  namun  bisa jongkok,  berdiri atau bergelayutan, bersentuhan dan  bergesekan sembari menikmati alam bebas.

Dengan demikian hampir tak ada jarak antara pelaku seni  dengan penonton, sehingga semuanya  lebur dan menyatu. Kehadiran seni pentas itu tidak terikat oleh tempat, ruang dan waktu.

Pertunjukan tari topeng misalnya bisa terjadi  di  bawah pohon besar  yang rindang,  pementasan barong bisa digelar di tepi sungai, drama tari arja bisa hadir di jalan  umum , bahkan di tengah keramaian pasar.

Atmosfer pentas seni tontonan komunal kini telah sayup-sayup. Begitu pula ngelawang dalam konteks  sakral-magis agaknya semakin sepi, padahal tahun 1970-an, aura magis ngelawang itu masih berbinar.

Bahkan rumah-rumah penduduk didatangi barong kedingkling, figur topeng yang bersumber dari cerita pewayangan Ramayana yang disambut antusias oleh  seisi rumah.

Biasanya diawali dengan sepotong tembang, misalnya tokoh punakawan Malen dan Merdah, lalu disusul  tokoh Subali dan Sugriwa menari semenit, dua menit di halaman tempat suci keluarga (merajan).

Meskipun pementasannya singkat, namun masyarakat umumnya cukup senang dan percaya aura ritual-magis yang dipancarkan ngelawang Galungan itu akan memberikan keselamatan dan perlindungan.

Hasrat hidup damai dan terlindung dari segala bencana itulah kiranya yang menjadi tujuan ngelawang, ujar Kadek Suartaya.(IGT/T007)

Pewarta:

Editor : Nyoman Budhiana


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2012