Denpasar (Antaranews Bali) - Dinas Kesehatan Provinsi Bali menargetkan imunisasi Measles dan Rubella (MR) dapat menyasar sebanyak 962.810 anak yang berusia dari sembilan bulan hingga 15 tahun, selama Agustus-September 2018.

"Untuk bulan Agustus ini akan disasar mulai sekolah-sekolah seperti PAUD, TK, SD dan SMP. Bulan September baru sisanya pemberian imunisasi di pelayanan seperti di puskesmas, puskesmas pembantu, posyandu dan rumah sakit," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr Ketut Suarjaya, di Denpasar, Kamis.

Vaksin imunisasi untuk mencegah terjangkit virus Measles (campak) dan Rubella (campak jerman) tersebut bisa didapatkan secara gratis oleh masyarakat. "Kami harapkan dalam dua bulan yakni Agustus-September itu minimal sudah tersasar 95 persen dari total jumlah anak-anak berusia 9 bulan hingga 15 tahun di daerah kita," ujarnya.

Suarjaya mengatakan bagi balita yang sebelumnya sudah mendapatkan imunisasi campak dengan rentang waktu kurang dari empat minggu dengan jadwal pemberian imunisasi MR saat ini, maka tidak perlu diberikan imunisasi MR. Tetapi kalau waktunya sudah melebihi empat minggu, bisa diberikan imunisasi MR.

"Kekebalan maksimal dari imunisasi itu tiga kali yakni pada umur sembilan bulan, 18 bulan dan enam tahun. Kalau diberikan sekali kekebalannya 85 persen dan bisa turun lagi. Tetapi, jika diberikan hingga tiga kali, kekebalannya sampai 93 persen dan itu seumur hidup," ucapnya.

Mulai Oktober mendatang, imunisasi MR bahkan akan menjadi imunisasi wajib yang bisa didapatkan di pusat pelayanan kesehatan dan bayi berusia sembilan bulan yang belum mendapatkan imunisasi campak, akan langsung mendapatkan imunisasi MR.

"Kasus Rubella di Indonesia sebenarnya cukup banyak, namun sering tidak terlaporkan karena gejalanya mirip dengan campak," ujarnya.

Yang menjadi persoalan, lanjut Suarjaya, ketika virus Rubella menyerang ibu hamil karena bisa menimbulkan cacat atau kematian pada janin.

Cacatnya itu bisa buta katarak, tuli, gangguan jantung, dan gangguan saraf. Ibu hamil yang terinfeksi Rubella bisa menularkan virusnya ke janin lewat plasenta.

Sedangkan untuk campak, kata Suarjaya, sebenarnya tidak terlalu berat, tetapi komplikasi campak itu bisa menimbulkan pneumonia atau radang pada paru-paru dan meningitis (radang pada selaput otak). "Ini yang berbahaya," ucapnya.

Campak, lanjut dia, bisa sembuh sendiri dengan meningkatkan daya tahan tubuh. Tetapi kalau daya tahan tubuh lemah bisa terjadi komplikasi.(WDY)

Pewarta: Ni Luh Rhismawati

Editor : I Komang Suparta


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2018