Amlapura (Antaranews Bali) -  Bupati Karangasem, Bali, I Gusti Ayu Mas Sumatri, meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dari tingkat desa hingga kabupaten untuk memaksimalkan dalam membantu masyarakat yang mengungsi akibat erupsi strombolian (letupan disertai lava pijar) Gunung Agung.

"Masyarakat telah mengungsi ke tempat yang aman itu diperkirakan akan berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama, karena karakter gunung berapi sulit untuk ditebak," kata Mas Sumantri dalam keterangan pers Humas Pemkab Karangasem yang diterima Antara, Rabu.

Ketika memimpin rapat koordinasi yang melibatkan seluruh pimpinan OPD di rumah jabatan (3/7), ia mengajak jajarannya untuk meningkatkan kinerja dalam melayani masyarakat secara gotong-royong.

"Bantu saudara-saudara kita yang ada di setiap pengungsian. Kita kerahkan segala upaya untuk membantu mereka," katanya saat mendatangi lokasi pengungsian di Banjar Tengah, Kecamatan Bebandem didampingi Dandim 1623/Karangasem Letkol Inf. Benny Rahadian (3/7).

Setelah memimpin rapat koordinasi, Bupati Mas Sumatri meninjau masyarakat Kawasan Rawan Bencana (KRB) III radius 4 kilometer dari puncak Gunung Agung di beberapa titik pengungsian.

Seluruh jajaran OPD hingga aparat di tingkat desa siap membantu untuk memfasilitasi tempat tinggal sementara bagi para pengungsi.

Ia juga mengajak masyarakat untuk bergotong-royong membantu para pengungsi di daerah yang aman, menyusul letusan yang terjadi Senin (2/7) pukul 21.04 Wita.

Bupati Mas Sumatri didampingi Camat Selat I Nengah Danu, Perbekel Duda I Gusti Ngurah Putra dan Ketua Pasebaya Agung yang juga Perbekel Duda Timur I Gede Pawana mengunjungi para pengungsi di Banjar Pesangkan Duda Timur di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Duda.

Ia menggugah empati masyarakat yang berada di sekitar tempat pengungsian agar turut membantu keperluan para pengungsi, berupa peralatan memasak, peralatan makan, bahan makanan serta kebutuhan lainnya.

Tokoh masyarakat setempat, anggota sekaa teruna teruni atau pemuda-pemudi, serta ibu PKK juga diharapkan turut terlibat dalam membantu para pengungsi.

Letusan Gunung Agung pada Senin (2/7) malam menimbulkan kepanikan bagi warga di sekitar Lereng Gunung Agung, terutama radius kurang dari 4 kilometer.

Warga di sekitar lereng gunung berhamburan turun gunung untuk mengungsi ke daerah-daerah yang lebih rendah. Dari pagi hingga sore hari, Gunung Agung mengalami lima kali erupsi kecil dengan tinggi abu vulkanik sekitar 1.000 meter hingga 2.000 meter.

Pada Senin (2/7) malam, tiba-tiba masyarakat sekitar Gunung Agung dikejutkan letusan disertai dengan suara ledakan keras dan juga melontarkan lava dan batu pijar. Lontaran yang mengejutkan itu menyebabkan kebakaran di sekitar puncak dan lereng gunung.

PVMBG melaporkan erupsi terjadi pukul 21.04 Wita dengan tinggi kolom abu teramati 2.000 meter di atas puncak (± 5.142 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat.

Erupsi tersebut terekam dalam seismogram dengan amplitudo maksimum 24 mm dan durasi sekitar 7 menit 21 detik. Erupsi terjadi secara Strombolian dengan suara dentuman.

Erupsi bersifat eksplosif melontarkan batu pijar karena ada tekanan dari dalam kawah. Sifat magma yang lebih cair dibandingkan letusan tahun lalu juga menyebabkan mudahnya terjadi lontaran batu pijar.

Lontaran lava pijar teramati keluar kawah mencapai jarak 2 kilometer. Hutan di sekitar puncak kawah Gunung Agung terbakar sehingga api menyala cukup besar di beberapa bagian.

Relawan Pasebaya melaporkan bahwa lontaran lava pijar dari puncak Gunung Agung ke lereng bagian timur hingga timur laut ke daerah Culik dan Dukuh di Kabupaten Karangasem.

Selain itu juga mengarah ke bagian barat dan selatan. Akibatnya, hutan di puncak kawah terbakar cukup luas. Pantauan satelit Himawari BMKG menunjukkan bahwa sebaran abu vulkanik dominan mengarah ke barat yang kini sudah mulai padam. (ed)

Pewarta: I Ketut Sutika

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2018