Amlapura (Antara Bali) - Kegiatan ritual "Mendak Toya" yakni mencari air suci (tirta) di Telaga Tista, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali untuk kelengkapan upacara keagamaan memohon keselamatan jagat raya.

Kegiatan ritual digelar pada Senin, dipimpin delapan "sulinggih" (rohaniawan Hindu) yang dihadiri Bupati Karangasem Wayan Geredeg dan perwakilan subak, organisasi pengairan tradisional dalam bidang pertanian se-Kabupaten Karangasem.

Sulinggih yang memimpin upacara ritual itu, antara lain Ida Pedanda Istri Rai dari Geria Jelantik, Ida Pedanda Gede Pasuruan, Ida Pedanda Gede Wayan Tianyar dan Ida Pedanda Istri Kania.

Selain itu juga Ida Pedanda Gede Tangkeban, Ida Pedanda Gede Made Gunung dan Ida Pedanda Gede Bukit Kemenuh.

Bupati Karangasem I Wayan Geredeg mengatakan, makna dari ritual "Mendak Toya" adalah untuk memohon keselamatan dan kesuburan pertanian yang ada di Bali khususnya serta Nusantara dan dunia umumnya.

"Upacara tersebut serangkaian melestarikan dan memberdayakan keberadan lembaga subak yang belakangan ini mulai bergeser seiring kemajuan zaman," ujarnya.  

Ia juga meminta para camat dan kepala desa (perbekel) untuk menindaklanjuti kegiatan ritual ini dimasing-masing wilayahnya.

"Kegiatan upacara ini saya harapkan dapat meningkatkan kualitas pelaksanaan konsep 'Tri Hita Karana' atau tiga hubungan keseimbangan dan keharmonisan, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam lingkungan," tutur Bupati Geredeg.  

Ia mengatakan, sumber air Telaga Tista sejauh ini merupakan sumber air untuk mengairi irigasi beberapa subak, antara lain subak di lingkungan Bungaya, Asak, Timbrah, Bugbug dan Tenganan.

"Saya harapkan kegiatan keagamaan tersebut bisa dilakukan setiap tahun secara bergantian dari masing-masing kecamatan di Kebupaten Karangasem," ujarnya.(*)

Pewarta:

Editor : Masuki


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2011