Karangasem (Antara Bali) - Warga Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali yang wilayahnya masuk dalam kawasan rawan bencana (KRB) II masih beraktivitas seperti biasa pascapeningkatan aktivitas vulkanik Gunung Agung.

"Kalau siang hari masih biasa jualan canang (sarana ritual adat). Pada malam hari baru kami kembali ke pengungsian di wilayah Desa Rendang," kata Iluh Ase (43), salah satu warga Desa Besakih, Senin.

Iluh mengaku terpaksa berjualan untuk tetap menyambung hidup terlebih lagi sudah hampir dua minggu berada di pengungsian dan membutuhkan tambahan uang.

Selain itu, dirinya tetap ingin melayani masyarakat di wilayah desa tempat tinggalnya yang membutuhkan keperluan canang dan berbagai kebutuhan upakara lain.

"Ya memang perlu juga karena warga masih banyak mencari "canang" apalagi mau ada `odalan` (ritual adat) pada `purnama kapat` (bulan purnama keempat)," terang dia sembari menceritakan kadang was-was juga ketika cuaca dan gempa beruntun.

Di posko pengungsian, kata dia, dirinya berbaur dengan kalangan warga di wilayah Besakih. Selain juga beberapa warga asal Desa Menanga yang juga masuk dalam zona KRB II Gunung Agung.

Desa Besakih sendiri merupakan desa yang terlokasi sekitar sembilan kilometer dari puncak kawah Gunung Agung. Besakin merupakan salah satu desa yang terkenal di Bali dengan keberadaan Pura Besakih sebagai Pura terbesar di Pulau Dewata.

Sejak ditetapkan sebagai zona KRB, ribuan masyarakat di desa tua tersebut mengungsi ke sejumlah posko pengungsian di wilayah Kecamatan Rendang.

Pemerintah Provinsi Bali mencatat total jumlah pengungsi sesuai data terakhir mencapai sekitar 144.389 orang tersebar pada sembilan kabupaten/kota di Bali.

Sebagian besar pengungsi ditampung di Gedung Olahraga (GOR), tenda pengungsian darurat, balai masyarakat, balai banjar dan tempat pengungsian mandiri lain yang tersebar di beberapa wilayah. (WDY)

Pewarta: Pewarta: IMB Andi Purnomo

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2017