Mangupura (Antara Bali) - Ratusan jemaat Nasrani di Gereja Paroki Tritunggal Mahakudus, Banjar Babakan, Desa Canggu, Kuta Utara, merayakan Natal dengan mengenakan busana adat khas Bali sebagai cermin akulturasi budaya di daerah itu.

Nyoman Werna selaku Ketua I Bidang Pembinaan Iman dari Gereja Paroki Tritunggal Mahakudus di Mangupura, Minggu, mengakui, akulturasi budaya di desa itu telah dilakukan jemaat Katolik sejak Tahun 1967 hingga sekarang.

"Menggunakan pakaian adat Bali sudah menjadi tradisi para jemaat kami saat doa bersama di Gereja pada perayaan Natal," kata Nyoman Werna.

Perempuan menggunakan baju kebaya, sedangkan pria mengenakan baju safari dan udeng (ikat kepala).

Dalam acara doa bersama yang dipimpin Pastur Lusius Nyoman Purnawan itu, dihadiri sekitar 700 jemaat yang juga memaknai Hari Raya Natal ini sebagai refleksi untuk memupuk rasa toleransi dalam cinta kasih.

"Pesan Natal kali ini memberikan semangat untuk menanamkan cinta kasih agar dapat memupuk rasa toleransi antarumat beragama dan sesama umat beragama," katanya.

Selain berbusana adat Bali, ornamen bangunan di Gereja setempat juga cukup unik karena bentuk bangunannya menyerupai tempat ibadah Umat Hindu di Pulau Dewata.

"Kami juga memadukan instrumen musik Bali kedalam alunan lagu rohani yang dilantunkan pada doa bersama," ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga menjalankan tradisi saling berbagi makanan (ngejot) kepada sanak saudara dan tetangga sekitar. "Sebelum merayakan Hari Raya Natal umat yang ada di desa itu melakukan acara memotong hewan babi (nampah) bersama," katanya.

Ia juga menambahkan, akulturasi budaya lainnya yang dilakukan saat perayaan Natal kali ini dengan membuat gebogan (rangkaian janur kombinasi kue dan buah) sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan pencipta.

"Ini juga kami lakukan sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yesus karena telah diberikan berkah hasil bumi yang berlimpah," ujarnya.

Nyoman Werna mengakui, makna Natal kali ini mengimbau umat agar tidak takut menghadapi masa depan mereka, karena seperti diketahui saat ini bangsa Indonesia dihadapi gejolak dan tantangan dalam menghargai antarumat beragama.

Hal ini memberikan makna yang mendalam agar segala permasalahan yang ada dapat dihadapi dengan menghargai satu sama lain dan dalam menghadapi gejolak dapat diselesaikan dengan rasa cinta kasih. (WDY)

Pewarta: Pewarta: I Made Surya

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2016