Denpasar (Antara Bali) - Pasaran Amerika Serikat menyerap paling banyak yakni 28,21 persen dari total ekspor perhiasan dari bahan baku perak hasil sentuhan tangan-tangan terampil perajin Bali yang totalnya meraup 7,113 juta dolar AS, selama September 2016.
"Perhiasan yang menggunakan rancang bangun (desain) unik dan menarik dengan harga yang terjangkau itu, sangat diminati konsumen mancanegara," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Adi Nugroho di Denpasar, Minggu.
Ia mengatakan aneka jenis perhiasan hasil kerajinan skala rumah tangga itu, juga diserap pasaran Singapura sebesar 19,67 persen, Australia 14,99 persen dan Thailand 10,24 persen.
Selain itu juga ditampung pasaran Hongkong 6,10 persen, Jepang 0,08 persen, Belanda 3,49 persen, Jerman 3,44 persen dan sisanya 13,77 persen menembus berbagai negara lainnya di belahan dunia.
Adi Nugroho menambahkan, ekspor aneka jenis perhiasan itu menghasilkan devisa sebesar 7,113 juta dolar AS selama bulan September 2016, meningkat 43,94 persen dibanding bulan Agustus 2016 yang tercatat 4,97 juta dolar AS.
"Perolehan devisa tersebut dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya meningkat 23,40 persen, karena pada bulan September 2016 pengiriman aneka jenis perhiasan itu menghasilkan 5,76 juta dolar AS," ujar Adi Nugroho.
Ekspor aneka jenis perhiasan itu mampu memberikan kontribusi sebesar 23,40 persen dari total nilai ekspor Bali yang mencapai 40,51 juta dolar AS selama bulan September 2016, menurun 0,38 persen dibanding bulan sebelumnya yang tercatat 40,66 juta dolar AS.
Desa Celuk di Kabupaten Gianyar merupakan sentra pusat kerajinan perhiasan perak dan emas yang perajinnya berjejer di sepanjang jalan menuju kawasan wisata Bali timur.
Di Desa tersebut sedikitnya terdapat 497 perajin perak dan emas yang setiap hari melakukan aktivitas, baik untuk memenuhi pesanan mitra kerjanya maupun untuk persediaan matadangan yang bernilai ekonomis tersebut.
Wisatawan dalam dan luar negeri yang berkunjung ke Bali senantiasa membeli hasil kerajinan perak sebagai kenang-kenangan pulang ke daerah atau negaranya.
Perajin perhiasan perak di Desa Celuk, Kabupaten Gianyar, kini juga mengkombinasikan penggunaan bahan lain sebagai upaya menyiasati ekonomi saat ini yang lesu.
Putu Sudi Adnyani, seorang perajin perak mengaku tidak mau hanyut dalam suasana ekonomi lesu dan menyiasati dengan merubah desain, bahan ke lebih murah seperti tembaga, kuningan dan alpaka.
Selain itu untuk menjaga agar pembeli tidak bosan, katanya dan menambahkan, kerap berinovasi dalam setiap desain yang diambil dari alam seperti daun akar, batu, hingga satwa. (WDY)
Pewarta: Pewarta: IK Sutika: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.