Penyakit polio yang menyerang kakinya pada usia sembilan tahun memaksa ayah dua anak itu harus berjalan menggunakan kruk, karena kedua kakinya yang mengecil tak lagi mampu menyangga beban tubuhnya.
Sebuah mobil dari arah belakang tiba-tiba berhenti di sampingnya. Ia sedikit terkejut ketika seorang lelaki berusia 40-an turun dari mobil itu lalu memeluknya.
Kalau saja lelaki itu tidak menahannya, Nur sudah terjengkang. Sambil memeluk erat, orang itu berkata bahwa dirinya malu setelah melihat kegigihan Nur menjalani hidup dan berjalan di bawah gerimis.
"Dia tadinya emosi terus dan mengeluh karena memiliki banyak persoalan. Tapi setelah melihat saya yang seperti ini, semua amarahnya hilang. Syukurlah kalau keadaan saya bisa membuat orang sadar," kata Nurkholish berkisah pada suatu senja.
Lelaki kelahiran Jepara, Jateng, 21 September 1970 itu adalah satu dari dua "cowboy" Kuta penyandang ketunaan karena polio. Tapi, ia bukan bagian dari cowok-cowok berkulit legam seperti yang digambarkan Amit Virmani dalam filmnya "Cowboys in Paradise" yang menghebohkan itu.
Nur bersama Wayan Suarnata hanyalah dua pemuda yang berjaja pulsa keliling di pantai tempat para turis asing senang menjemur kulit.
Kedua penyandang ketunaan itu sama-sama berjalan dengan bantuan kruk. Mereka berusaha mensyukuri keadaan fisik yang tidak sempurna dengan prinsip tidak menjadi beban bagi orang lain.
Sore itu kami janjian bertemu. Wayan yang berkalung kertas dilaminating bertuliskan "Phone Credit" muncul lebih dulu di pantai tempat turis asing senang berselancar. Tak lama berselang, Nur muncul dengan asesoris yang lebih mencolok dibandingkan Wayan.
Sebuah papan dari bahan plastik dengan warna dasar biru bertuliskan, "Pulsa Keliling" dan "Around Cell" dipampang di dadanya. Sebuah tas bermotif batik yang digemari anak-anak sekolah bertengger di pungung.
Sebotol air mineral 550 mili liter penawar dahaga terselip di kantong tas punggung itu. Tak ketinggalan, tas pinggang yang biasa dikenakan orang-orang di Bali juga melekat di perut Nur untuk menyimpan uang dan telepon seluler berisi saldo pulsa.
"Sebentar ya, saya mau bekerja dulu karena saya baru datang," kata Nur ketika diajak berbicang.
Beruntung, seseorang membeli pulsa sebesar Rp50 ribu. lalu, ditemani debur ombak dan lalu lalang para turis, Nur mau berbagi kisah tentang perjuangan hidupnya.
Sebetulnya, Nur adalah pengusaha mebel sukses di Jepara. Saat itu, omzet bisninya sudah mencapai Rp350 juta setiap minggu. Tapi, dunia bisnis seringkali menghadirkan kejutan-kejutan bagi pelakunya. Untung besar, atau kadang malah buntung.
Nur yang sudah memulai bisnis sekitar lima tahun tiba-tiba ditipu oleh seorang eksportir yang mengambil barang ukiran darinya. Nur harus menanggung utang ratusan juta. Tak mau malu pada pekerja dan rekan bisnisnya, ia jual semua barang miliknya, termasuk rumah kesayangan.
"Tapi itu tidak cukup. Saya masih menanggung utang sekitar Rp40 juta. Hidup saya gelap. Tapi saya masih ingin hidup dengan tidak meminta-minta. Saya kemudian memutuskan merantau ke Batam dengan bekal seadanya," katanya.
Karena kehabisan bekal, ia terlunta-lunta di terminal Rajabasa, Lampung. Karena tak banyak uang, ia harus mengatur makan dengan satu atau paling banyak dua kali sehari. Kemalangan masih saja ingin menemani Nur. Saat hidup menggelandang di terminal, tas berisi pakaian dicuri orang.
Tak ada pilihan, Nur harus bekerja untuk menyambung hidup. Ia kemudian menawarkan diri untuk menjadi pencuci piring kepada seorang pemilik warung. Imbalannya, dikasih makan tiga kali sehari sudah sangat mewah bagi Nur saat itu.
Suatu ketika, seorang pembeli di warung itu bersimpati pada Nur dan memberinya uang Rp200 ribu. Dengan uang itu, Nur pergi ke Jakarta dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan.
Di ibu kota, Nur lontang lantung di kawasan Monas. Tak ingin berlama-lama berharap mendapat pekerjaan, Nur kemudian berjualan ketela goreng yang diiris tipis-tipis. Tapi usaha itu tak bertahan lama karena yang dialami di Jakarta justru lebih besar pasak daripada tiang.
Dengan pikiran masih kalut, ia memutuskan kembali ke arah timur dan terdampar di sebuah pesantren di Jawa Tengah. Sekitar satu bulan ia mencoba menenangkan diri di lembaga pendidikan tradisional itu.
Nur melanjutkan perjalanan dan tiba di sebuah makam yang oleh masyarakat dianggap keramat di daerah Pati, masih di Jawa Tengah. Di lokasi itu, persoalan makan tidak ada masalah karena setiap hari selalu ada warga yang menggelar selamatan dengan membawa makanan berlebih.
"Di makam itu, suatu ketika saya seperti bermimpi, antara sadar dan tidak, melihat cahaya dari timur. Sebagai orang Jawa, saya berpikir, ini isyarat," katanya.
Berbekal keyakinan datangnya "cahaya dari timur", ia melanjutkan kembaranya ke arah timur dan tiba di Pacet, Mojokerto, Jatim. Tidak lama di bekas pusat kerajaan Majapahit itu. Arah timur terus menjadi tujuannya.
Nur terdampar di terminal Bungurasih, Surabaya. Di terminal terbesar di kawasan timur Indonesia itu Nur sempat bergabung dengan "Arek-arek Suroboyo" menjadi pengamen.
Uang yang dikumpulkan dari hasil ngamen dibuat ongkos mencari "cahaya dari timur". Singkat cerita, sampailah ia ke terminal Ubung, Denpasar. Di terminal terbesar di Bali, ia tidur dan makan. Kadang memilih tidur di Rumah Sakit Wangaya dan RS Manuaba.
Setelah enam bulan di Bali, ia mulai teringat anak istrinya yang ditinggal di Jepara. Lewat bantuan seseorang, sang istri yang ternyata masih bisa bekerja di tempat usaha ukiran mebel, mengirimi Nur uang Rp500 ribu.
Berharap mendapatkan pekerjaan atau usaha yang layak, Nur mencoba kos dari sebagian uang Rp500 ribu itu. Suatu malam, ia mendengar tetangga kosnya bertelepon dengan keluarganya dari jauh dan tiba-tiba pulsanya habis.
"Itulah yang menginspirasi saya berjualan pulsa keliling. Saya berpikir, kalau tengah malam itu, saya punya pulsa, tentunya bisa membantu orang itu," katanya.
Besoknya ia mencari tempat penjual pulsa di sekitar Kampung Wanasari yang dikenal dengan sebutan Kampung Jawa sekitar satu kilo meter dari terminal Ubung. Dengan bekal Rp100 ribu, Nur sudah bisa berjualan pulsa.
Saldo pulsa sudah di tangan. Kini, saatnya bergerak. Menyadari dirinya tak berpengalaman menjual pulsa, diambillah secarik kertas bekas bungkus air mineral yang ditulisi, "Jual Pulsa Keliling".
"Itulah hari bersejarah saya, meskipun saya tidak ingat hari dan tanggalnya. Seharian saya berjalan menyusuri kawasan Gatot Subroto yang panjangnya sekitar 10 kilo meter. Hari pertama, tidak ada orang yang membeli," katanya getir.
Jiwa wirausahanya belum hilang. Ia tak putus asa dan terus menyusuri jalanan di Denpasar dan terminal Ubung. Lama-lama, usahanya membawa hasil. Tapi, suatu ketika ia tersesat di Kampung Jawa yang padat dan tidak bisa keluar.
"Wayan ini yang membantu saya bisa keluar dari Kampung Jawa itu. Wayan banyak membantu saya untuk bersemangat. Waktu itu, saya berjualan hanya mengandalkan tulisan di dada. Belum berani menawarkan lewat lisan," katanya.
Wayan yang memang menaruh kepedulian kepada sesama penyandang cacat, menimpali, bahwa dirinya menyarankan Nur untuk berjualan pulsa di objek-objek wisata. Wayan juga yang terus memompa semangat Nur untuk terus bangkit.
"Nur waktu itu setiap hari selalu menangis. Saya ingin orang-orang cacat seperti saya agar memiliki mental yang kuat untuk maju," kata Wayan.
Sekitar delapan bulan yang lalu, Nur mencoba peruntungan ke kawasan Pantai Kuta di Kabupaten Badung itu. Hari pertama ke Kuta, Nur berjalan kaki sejauh sekitar 17 kilo meter dari Ubung.
"Cahaya dari timur" agaknya ditemukan Nur di pantai berpasir putih yang menjadi dambaan turis, terutama saat matahari hendak menjemput malam. Di Kuta, banyak turis-turis asing yang butuh dagangan Nur, selain turis lokal.
"Kadang mereka juga memberi uang lebih dari harga pulsa yang dibeli. Saya terima saja, yang penting tidak minta," kata Nur.
Setelah bekal hidup sudah cukup, Nur mulai memanggil istri dan anak keduanya yang masih kelas satu SD untuk ikut ke Denpasar. Nur kini sudah bisa membeli sepeda motor dan kembali membiayai sekolah anak pertamanya yang duduk di SMA di Jepara.
"Dulu ketika saya masih lontang lantung, anak-anak dibiayai oleh istri dan orang tua. Sekarang syukur sudah saya biayai sendiri. Utang-utang sudah saya cicil, meskipun belum sepenuhnya lunas," kata lelaki yang mengenyam pendidikan terakhir SMA, namun tidak memiliki ijazah itu.
Ditanya, apa obsesinya dengan bisnis pulsa keliling itu, Nur mengatakan, belum ada, kecuali bagaimana bisa melunasi utang dan bisa membeli rumah.
"Saya hanya punya keinginan untuk jalan kaki dari Kuta ke Jakarta sambil berjualan pulsa. Cuma banyak yang harus saya pikir, terutama untuk kebutuhan anak istri selama saya perjalanan ke Jakarta. Doakan, semoga niat saya ini bisa terwujud," katanya.
Kini, giliran Wayan berkisah, sbab dari tadi dia hanya diam dan sesekali menimpali cerita Nur. Wayan, sejatinya adalah sahabat sekaligus guru bagi Nur.
Wayan baru dua bulan mencoba peruntungan pulsa di kawasan Kuta. Tidak ada masalah bagi Nur. Wayan bukan saingan, karena penghasilan Nur tidak berkurang ketika Wayan datang dengan membawa bisnis sejenis.
"Wayan ini sebetulnya tidak sepenuhnya jualan pulsa karena dia punya usaha sendiri di rumah," kata Nur yang masih enggan mengakhiri cerita. Wayan hanya tersenyum meskipun tidak sepenuhnya setuju dengan ungkapan Nur.
Anak sulung dari tiga bersaudara kelahiran, Ubud, Kabupaten Gianyar, 15 September 1967 ini sebelumnya memiliki usaha kerajinan tangan, berupa sampul map untuk daftar menu makanan di restoran dan hotel.
"Karena sekarang sedang sepi, saya mencoba seperti Nur. Ternyata lumayan juga. Sehari saya bisa mengumpulkan untung Rp100 ribu. Tapi biasanya kan naik turun," kata bujangan yang juga pendiri Hatimandiri, kumpulan orang-orang penyandang ketunaan.
Apa yang dilakukan Wayan, bukan semata-mata mencari untung di ranah seluler ini. Ia juga membawa misi kepada orang lain, khususnya penyandang ketunaan agar tidak menyerah pada keadaan.
"Pernah suatu ketika saya mau diberi uang oleh orang bule, saya tolak. Tapi dia sangat memaksa dan mengatakan bahwa ini bukan karena belas kasihan. Uang itu sebagai penghargaan karena saya mau berusaha meskipun keadaan saya begini. Akhirnya saya terima," katanya.
Sebuah usaha tidak akan pernah berjalan mulus. Ada saja tantangannya. Wayan juga demikian. Suatu malam, seorang bule yang sedang mabuk pernah mengambil telepon selulernya yang berisi saldo pulsa Rp1 juta.
Ia berjualan mulai sekitar pukul 15.30 Wita hingga pagi hari dengan menyasar turis di pantai dan di kawasan klub malam. Saat itu, di depan sebuah diskotek, telepon selulernya tiba-tiba lenyap dibawa turis mabuk. Semalaman Wayan mencari bule teler itu.
"Saya mendapat informasi kalau ada bule tertidur di utara monomen bom Bali. Saya datangi dan ternyata HP masih ada di sakunya. Saya ambil saja," katanya tertawa.
Sore terus bergerak, Nur dan Wayan mengakhiri cerita karena harus meneruskan pekerjaan. Keduanya berjalan mendekati turis-turis yang sedang duduk dengan menyapa dalam Bahasa Inggris seadanya, "May be you want phone credit?"
Nur dan Wayan adalah contoh bagaimana keterbatasan fisik tidak membatasi orang untuk maju. Keduanya mampu menangkap peluang dari perkembangan dunia seluler yang tarifnya semakin murah untuk meningkatkan ekonomi sekaligus mengangkat martabatnya sebagai kaum yang menyandang ketunaan. (Masuki M. Astro) (*)
Editor : Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.