"Sudah puluhan tahun sebagian besar warga sini tidak punya kakus. Sudah biasa buang air besar di pantai," kata Samsul, salah seorang nelayan Dusun Ketapang, Desa Pengambengan, Selasa.
Ia mengatakan, karena sudah terbiasa, masalah kakus ini bukan menjadi persoalan besar bagi warga yang rata-rata bekerja sebagai nelayan tersebut.
"Dulu pernah ada kakus umum, tapi tidak banyak warga yang memanfaatkannya, dan akhirnya rusak," ujarnya.
Disinggung bantuan dari pemerintah atau pihak lain untuk membuat kakus umum, menurutnya, akan percuma jika tidak diimbangi dengan kesadaran warga memeliharanya.
Amat, warga lainnya mengatakan, karena sudah terbiasa buang air besar di tempat terbuka, sulit bagi warga wilayah tersebut untuk buang air di kakus.
"Bahkan ada warga sini yang tidak bisa buang air di kakus. Kalau bepergian, sampai menahan buang air besar, dan menunggu sampai rumah baru lari ke pinggir pantai," katanya sambil tersenyum.
Karena rata-rata warga buang air besar di pantai, masih banyak sisa-sisa kotoran manusia tersebut di sepanjang pantai, karena tidak seluruhnya hanyut dibawa ombak.
Warga biasanya membuang air di pasir yang jauh dari air laut, dengan maksud saat pasang, ombak akan menghanyutkan kotorannya.
Selain kakus, sebagian warga kampung ini masih ada yang mengkonsumsi air mentah dari sumur sendiri, sementara yang dimasak hanya untuk keperluan menyeduh kopi atau teh.(GBI)
Pewarta: Pewarta: Gembong Ismadi: Gembong Ismadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.