Analis Woori Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Kamis mengatakan rupiah terapresiasi setelah sempat stagnan di awal sesi perdagangan, penguatan yen terhadap dolar AS mendorong pelaku pasar uang di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia cenderung melepas mata uang AS itu.
"Tentu saja, sentimen tersebut membuat laju Rupiah kembali terapresiasi," katanya.
Di sisi lain, lanjut dia, harga minyak mentah dunia yang masih cenderung mengalami pelemahan membuat persepsi positif kepada pelaku pasar keuangan domestik. Harga minyak mentah yang tidak terlalu tinggi akan membuat beban defisit neraca perdagangan dapat diminimalisir.
"Diharapkan tren perbaikan defisit neraca perdagangan Indonesia terus berlanjut sehingga dampaknya akan positif bagi fundamental ekonomi Indonesia ke depannya, dan momentum penguatan rupiah terbuka ke depannya," katanya.
Pengamat Pasar Uang Bank Himpunan Saudara, Rully Nova menambahkan bahwa secara teknikal mata uang dolar AS masuk dalam fase jenuh beli sehingga beberapa mata uang di negara berkembang termasuk Indonesia mengalami penguatan.
Di sisi lain, lanjut dia, pemerintah Amerika Serikat diperkirakan melakukan intervensi agar penguatan dolar AS tidak terlalu tinggi agar tidak mengganggu target ekonomi AS. Kondisi itu juga menjadi salah satu faktor mata uang rupiah berada dalam area positif.
Sementara dari dalam negeri, lanjut Rully Nova, pelaku pasar masih "wait and see" terhadap kebijakan pemerintah untuk menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, serta pelantikan presiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla periode 2014-2019.
"Kondisi di dalam negeri masih akan membuat penguatan mata uang rupiah bergerak dalam kisaran yang terbatas," ucapnya. (WDY)
Pewarta: Oleh Zubi Mahrofi: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.