"Selain itu harga gabah saat petani panen dapat dipastikan merosot, karena semua ditentukan oleh pemilik uang alias pengepul. Sekarang tidak lagi ditampung Bulog yang pembeliannya lewat Koperasi Unit Desa (KUD) seperti tempo dulu," kata Made Kariana, petani sawah di Kabupaten Badung, Rabu.
Keluhan senada juga diungkapkan petani Gianyar, Ketut Darta. Ia mengaku, petani selalu mengalami nasib terpuruk, karena hasil panenannya rendah ditambah lagi pemerintah menaikkan harga pupuk, obat-obatan sekaligus mengurangi subsidi bagi sarana produksi pertanian tersebut.
Sementara survei kegiatan dunia usaha yang dilakukan Bank Indonesia Denpasar menyebutkan, pada triwulan I-2010 menunjukkan kenaikan harga benih di Pulau Bali sekitasr 25 persen, yaitu dari Rp5.000 hingga Rp6.000 per kg menjadi sekitar Rp7.000 per kg.
Harga obat-obatan tidak mau ketinggalan juga merangkak rata-rata Rp10.000 per botol. Kenaikan harga sarana produksi pertanian tersebut seharusnya juga menaikkan harga gabah hasil produksi petani, tetapi kenyataannya harga selalu merosot saat petani panen, kata Darta.
Hasil pemantauan Bank Indonesia juga menyebutkan, kenaikan harga pupuk maupun obat-obatan di daerah ini ternyata tidak mendorong kenaikan harga gabah hasil panenan petani, malahan justru lebih murah akibat ditentukan pengepul.
Harga jual lahan panen padi per are (100 M2) justru menurun periode triwulan I-2010. Di Kabupaten Klungkung 40 Km timur Denpasar misalnya harga panen padi Rp150.000 hingga Rp160.000 per are, namun saat panen petani hanya menerima pada kisaran Rp100.000 hingga Rp110.000 per are.
Petani di Gianyar seperti dituturkan Ketut Darta, sebelum panen harga padi di sawah mencapai Rp200.000 per are, tetapi saat panen para pembeli hanya menghargai rata-rata Rp130.000 per are.
"Tidak dijual padi rusak, kalau dijual harganya murah," keluh pria setengah baya tersebut.
Untuk mengurangi kerugian lebih besar dan berkelanjutan yang diderita petani Bali, pemerintah diminta bersedia membeli gabah hasil panenan petani melalui Bulog setempat seperti yang pernah dilakukan pemerintah sepuluh tahun silam.
Sekarang harga beras salah satu kebutuhan pokok masyarakat melambung di pasaran, justru petani sendiri tidak bisa menikmati akibat persediaan sudah habis, keluh Kariana petani lainnya.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.