"Hal itu didorong oleh meningkatnya pendapatan rumah tangga dengan nilai indeks sebesar 116,29," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Panusunan Siregar di Denpasar, Rabu.
Menurut dia, kemampuan konsumsi masyarakat yang tidak terpengaruh oleh kenaikan harga barang dengan nilai indeks sebesar 113,94 serta tingkat konsumsi makanan dan bukan makanan yang mengalami peningkatan dengan nilai indeks sebesar 113,40.
Kondisi demikian itu diperkirakan berpengaruh terhadap kondisi pada triwulan I/2014 yang diperediksikan mencapai 109,40 sehingga kondisi ekonomi konsumen diperkirakan akan kembali membaik, namun dengan tingkat optimisme yang lebih rendah.
Panusunan Siregar menambahkan, perkiraan membaiknya kondisi ekonomi konsumen pada triwulan yang akan datang itu disebabkan oleh perkiraan konsumen yang akan terjadinya peningkatan pada pendapatan (indeks sebesar 110,72).
Selain itu terjadinya peningkatan keyakinan dalam melakukan pembelian barang tahan lama, rekreasi dan pesta hajatan (indeks sebesar 107,03 persen).
Panusunan Siregar menjelaskan bahwa pergerakan ekonomi makro di Bali sangat erat kaitannya dengan pergerakan ekonomi konsumen. Hal itu berkat konsumen, yakni rumah tangga mengambil peran sekitar 52 persen dari produk domestik regional bruto (PDRB) Bali dari sisi penggunaan.
Dengan demikian kondisi ekonomi konsumen menjadi salah satu indikator penting dalam memprediksi kondisi ekonomi secara makro. ITK adalah indikator yang diharapkan mampu memberikan gambaran lebih dini akan kondisi ekonomi konsumen.
Indikator itu dihasilkan dari sebuah survei persepsi (survei tendensi konsumen) yang cukup mudah dipahami dengan harapan bisa memudahkan penggalian informasi terkait ekonomi konsumen. (WRA)
Pewarta: Oleh I Ketut Sutika: I Gede Wira Suryantala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.