Denpasar (Antara Bali) - Guru besar Universitas Udayana Prof Dr drh I Gusti Ngurah Kade Mahardika mengatakan, Bali rentan terhadap penyakit, terutama virus yang baru muncul (emerging) atau virus yang muncul kembali (re-emerging).

"Virus tersebut biasanya datang dari hewan, baik yang berada di Bali sendiri maupun dari daerah lain di Indonesia, bahkan dari berbagai belahan dunia," kata Mahardika yang juga kepala Laboratorium Biomedik dan Biologi Molekuler Hewan pada Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unud di Denpasar, Selasa.

Ia mengatakan, masuknya virus itu antara lain disebabkan oleh padatnya arus lalu lintas wisatawan mancanegara, sehingga Bali menjadi pintu masuk ke Indonesia, sekaligus sebagai daerah penyebar penyakit.

Berbagai penyakit virus yang bersumber dari hewan (zoonosis) berpotensi menyebabkan kesakitan, kematian pada orang serta menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar.

Bahkan beberapa jenis penyakit berpotensi pandemik yang sangat mengancam Bali, antara lain avian influenza (H5N1), pandemik influenza A (H1N1), SARS, Nipah, HIV/AIDS dan terakhir rabies.

Mahardika menambahkan, meskipun ancaman Bali terhadap penularan virus itu sangat besar, namun kegiatan penelitian dasar tentang hal tersebut masih sangat terbatas.

Oleh sebab itu, ke depan kemunculan virus-virus baru tersebut perlu diantisipasi agar tidak menimbulkan kefatalan atau kerugian ekonomi.

Antisipasi itu sangat penting, mengingat kemunculan kembali virus yang sangat berbahaya bisa saja terjadi, karena perubahan materi genetik virus lama dan perubahan ekologi.

Perubahan tersebut terjadi karena mutasi, rekombinasi dan reasorsi. Perubahan tersebut sangat kompleks, termasuk aktivitas manusia yang sangat padat, tutur Mahardika.(*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026