"Hilangnya uang milik sejumlah nasabah yang dibobol melalui ATM, telah membuat kami cukup khawatir. Masalahnya, kejadian itu muncul pada sejumlah bank di Bali," kata Supadmi Suparmono (40), nasabah bank di Denpasar, Bali, Rabu.
Perempuan yang bekerja di salah satu hotel di kawasan Kuta itu, mengaku bahwa munculnya kejadian tersebut telah membuat dirinya menjadi ragu menaruh uang di bank.
"Dulu orang sering mengatakan, jangan menyimpan uang di bawah bantal, tidak aman. Namun kini ternyata, nyimpen uang di bank pun, sama saja," kata perempuan asal Surabaya ini.
Supadmi, yang dikuatkan beberapa teman sekerjanya, sangat berharap pihak bank segera dapat membuat sistem atau perangkat yang canggih, yang dapat mengamankan keberadaan uang nasabah di bank.
Selain itu, ia juga berharap munculnya kasus pembobolan uang nasabah melalui ATM yang kini muncul di Bali, dapat diungkap tuntas oleh pihak kepolisian.
"Kami harap kasus itu dapat diungkap petugas, sehingga kekhawatiran dari para nasabah tidak berdampak pada kepercayaan terhadap bank jadi menurun," ujarnya.
Surya (28), nasabah bank yang lain, mengatakan, meski dirinya tidak menaruh atau memegang kartu ATM di beberapa bank yang menjadi korban aksi kejahatan, dirinya mengaku terkejut dengan munculnya kejadian itu.
"Meski saya tidak menggunakan kartu ATM dari bank yang menjadi korban pembobolan, tetap saja saya khawatir dan takut kalau kejadian tersebut merambah ke bank yang saya pakai sekarang," ucapnya tanpa menyebut nama bank yang dimaksud.
Surya berharap seluruh bank dapat menjamin keamanan uang nasabahnya, sehingga masyarakat, terlebih kaum pegawai kecil, tidak menjadi korban berikutnya.
"Dalam kasus seperti ini pihak bank seharusnya dapat menjamin dan mengganti uang nasabah yang hilang, karena kesalahan ataum keteledoran bukan berada pada pihak pemegang ATM," ujar pria yang seorang PNS itu.
Sementara di tempat terpisah, Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Gde Sugianyar mengatakan, dari laporan yang masuk ke jajarannya, diketahui bahwa nasabah yang menjadi korban pembobolan berjumlah 15 hingga 20 orang.
Korban sebanyak itu tercatat sebagai nasabah pada tiga bank, yakni Bank BCA, Permata dan BNI, dengan jumlah kerugian yang mencapai ratusan juta rupiah.
Kepada para nasabah, Sugianyar mengharapkan tidak mudah panik, melainkan secepat mungkin dapat mengecek saldo, bahkan bila perlu mengganti nomor PIN dari ATM yang selama ini dipegang.
"Mengganti nomor PIN secara reguler kami rasa sangat penting untuk memberikan keamanan kepada para nasabah atas uangnya yang tersimpan di bank," ujarnya. (*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.