"Ini komitmen kita bersama, bukan hanya pemerintah saja. Masyarakat turut bertanggung jawab untuk kepentingan kita bersama pada masa mendatang," katanya, di Desa Batu Kandik, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, Minggu.
Pastika memimpin pencanangan gerakan "One Man One Three" yang telah ditetapkan pemerintah.
Di tingkat pusat, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang turut melibatkan para duta besar negara sahabat dijadwalkan memimpin pencanagan gerakan ini di Desa Ciherang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, juga pada Minggu.
Gerakan nasional ini juga merupakan satu mata rangkaian acara dengan Gerakan Penamanan Pohon Nasional. Pastika sendiri menanam bibit pohon cempaka kuning, sementara istrinya, Ayu Pastika, yang turut dalam acara itu juga menanam bibit cempaka.
Di Pura Temu Desa Batu Kandik, di mana pencanganan gerakan itu dipusatkan di Bali, hadir sejumlah besar masyarakat setempat dan para petinggi di lingkungan pemerintahan Bali dan pemimpin nonformal.
Di antara pemimpin formal terdapat Wakil Bupati Klungkung, Putu Bawa, dan Kepala Dinas Kehutanan, Agung Buwana.
Terdapat 3.750 bibit tanaman keras yang ditanam di sana, yang dilakukan oleh Pastika bersama seluruh hadirin.
Nusa Penida sendiri adalah satu kecamatan yang terpisah dari Pulau Bali, dan bisa ditempuh memakai kapal penyeberangan melalui Pelabuhan Padang Bai selama satu jam pelayaran.
Menurut Pastika, komitmen pelestarian lingkungan yang salah satu perwujudannya berupa pemeliharaan pohon-pohon yang telah dan akan ditanam kemudian, juga menjadi salah satu butir program "Bali Mandara".
"Rumus saya sederhana saja, di tempat yang banyak pohonnya pasti tidak kekurangan air. Air cukup berarti masyarakatnya bisa sejahtera karena penghasilannya baik, dan kemiskinan bisa turut ditanggulangi," katanya.
Pencanangan gerakan "One Man One Three" juga dikombinasikan dengan pelepasliaran beraneka jenis burung hasil penangkaran resmi ke alam liar di Pulau Nusa Penida.
Burung jalak, gelatik, merpati, dan kakatua jambul kuning terdapat di antara burung-burung yang dilepasliarkan itu.
Pulau Nusa Penida juga diketahui memiliki kekayaan plasma nutfah ternak berupa sapi nusa penida, yang secara fisik mirip dengan sapi bali (Bos balinensis).
"Sapi nusa penida ini sangat endemik dan harus kita lestarikan. Jadi kami menyerahkan bantuan 30 sapi bibit kepada tiga kelompok tani di sini. Sapi yang diberikan ini harus dijaga betul, jangan sampai mati atau dijual lagi," kata Pastika.
Selain itu, Pastika juga melihat perkembangan pembangunan penampungan air besar di desa itu. Terdapat enam kolam penampungan besar, empat di antaranya telah bisa dipakai untuk menampung air dari mata air Penida.
Dua kolam besar penampungan air yang lain masih dalam pembangunan, agar bisa dipergunakan menampung air dari mata air Guyangan.
Menurut sejumlah masyarakat yang ditemui, masalah yang tersisa adalah menaikkan air dari kedua mata air itu ke dalam kolam besar penampungan. (*)
Editor :
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.