"Jamur kuping biasa tumbuh pada kayu lapuk, maka untuk budidayanya harus dicarikan media yang lebih mudah yakni dengan memanfaatkan serbuk gergaji sebagai media tanamnya," kata Ketua Kelompok Usaha Bersama (Kube) Budidaya Jamur Kuping "Barokah" Suyadi di hunian sementara korban Merapi Gondang 2, Minggu.
Menurut dia, dengan serbuk gergaji sebagai bahan utama dengan tambahan bekatul dan tepung jagung, sebagian warga di lereng Merapi di hunian sementara membuat "baglog" atau tempat media tanam jamur kuping.
"Serbuk kayu tersebut dicampur dengan bahan tambahan kemudian dipadatkan dalam kantong plastik. Setelah masa penanaman (inokulasi) selesai, 'baglog' tersebut tinggal dipasarkan pada pembudidaya lain, tiap satu baglog seharga sekitar Rp2 ribu," katanya.
Ia mengatakan, dari dana bantuan Kelompok Usaha Bersama (Kube) Barokah sebesar Rp2 juta, dirinya membeli 500 "baglog" dan sisanya digunakan untuk membangun rak baglog dari bambu.
"Jamur kuping dapat dipanen satu bulan sekali tetapi karena sekarang sedang musim kemarau, panen jamur menjadi sedikit lebih lama yaitu sekitar 1,5 bulan sekali karena jamur kuping butuh cuaca yang lembab," jelasnya.(LHS/T007)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.