Denpasar (Antara Bali) - Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Bali Prof Dr Nyoman Suparta mengatakan, dampak kerugian besar yang sering dihadapi petani saat musim kemarau salah satunya disebabkan karena petani melanggar pola tanam.

"Hal ini terjadi karena kurangnya pemahaman petani, selain mayoritas petani Bali sudah berusia lanjut," katanya di Denpasar, Selasa.

Ia mengatakan, walaupun para petani sudah diberikan penjelasan dari para penyuluh pertanian, tetapi terkadang petani masih menggunakan metode-metode tradisional.

"Termasuk pengaturan pola tanam. Saat petani diarahkan menanam jenis tanaman holtikultura di musim kemarau, anjuran ini sering tidak diindahkan. Justru mereka memilih tetap menanam padi dan padi," ujarnya.

Akibatnya, kata dia, saat kondisi kekeringan seperti saat ini petani harus siap mengalami gagal panen pada tanaman padinya karena padi termasuk tanaman yang sangat tergantung pada ketersediaan air.(**)




: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026