Denpasar (Antara Bali) - Kebutuhan tenaga terapi "solus per aqua" (spa) belakangan ini menjadi tren dunia, sehingga membuat lembaga-lembaga pelatihan ketrampilan tersebut semakin giat melakukan pendidikan bagi warga masyarakat.

"Tenaga profesional dibidang terapi spa kini semakin dibutuhkan baik untuk hotel dalam negeri maupun luar negeri,"kata Direktur Yayasan Bali Citra Internasional Ni Made Rai Anggreani, SH di Denpasar, Jumat.

Di sela-sela membuka pelatihan ketrampilan spa itu, ia mengatakan, pihaknya tahun ini kembali dipercaya sebagai projek percontohan (pilot project) tingkat nasional.

Dalam hal ini, kata dia, pihaknya bekerja sama dengan pemerintah yaitu Direktorat Kursus dan Pelatihan Ditjen Paudni Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional.

"Program pendidikan dan pelatihan spa ini berbasis kompetensi selama 240 jam yang dibiayai melalui bantuan dana block grant tahun 2011.

Dikatakannya, rogram khusus para profesi (KPP) spa tersebut diikuti oleh 100 peserta masyarakat usia produktif yang berlatar belakang putus sekolah dan tidak memiliki pekerjaan tetap.

"Pelatihan ini bertujuan agar mereka mampu mandiri, berdedikasi tinggi serta ke depan bisa bersaing di era globalisasi. Apalagi kebutuhan tenaga therapis spa semakin meningkat," ucapnya.

Rai Anggreani mengatakan, kebutuhan terapi spa dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Sebab kebutuhan tenaga profesional ini untuk memenuhi vila, resort dan hotel yang ada di Indonesia maupun luar negeri.

"Sekarang kami memiliki 'job order' dari luar negeri hampir 480 orang yakni di Maldiv, Dubai, Afrika Selatan dan Qatar. Mereka nantinya ditempatkan di vila, resort dan hotel berbintang," ujarnya.

Ia mengakui lembaga pendidikan yang dipimpinnya memang berupaya mencetak tenaga spa yang profesional, hal itu juga dibuktikan 85 persen tamatannya telah terserap di dunia kerja dengan dilengkapi sertifikasi kompetensi.

"Keunggulan pelatihan di sini yaitu penerapan metodelogi pendidikan dengan bahan ajar disesuaikan kebutuhan kerja, berbasis kompetensi sehingga tenaga spa profesional bisa kami cetak, apalagi kami juga memiliki 'partner' sebagai tempat magang para peserta didik," kata Rai Anggreani menjelaskan.

Kepala Bidang PNFI Disdikpora Bali, Ni Made Mertanadi mengapresiasi kiprah yayasan tersebut khususnya dalam membantu program pemerintah untuk menurunkan angka pengangguran di Pulau Dewata.

Ia berharap ke depan di lembaga pendidikan manapun yang berupaya mencetak tenaga kerja profesional juga harus dilengkapi dengan pendidikan karakter.

"Pendidikan karakter seperti kejujuran, sopan santun dan keramahtamahan sangat penting bagi tenaga kerja yang berhubungan langsung dengan pihak ketiga, karena mereka bekerja di luar negeri tidak hanya membawa nam pribadi namun mereka juga membawa nama Bali dan Indonesia." kata Mertanadi mengingatkan.(*)


Editor : Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026