Jakarta (Antara Bali) - Koordinator Klinik Laktasi Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk Jakarta dr Naomi Esthernita F Dewanto SpA (K) mengatakan kondisi stres dapat mengurangi produksi Air Susu Ibu (ASI) ibu menyusui.

"Faktor psikologis seorang ibu menjadi kunci penting dalam proses pemberian ASI kepada bayinya. Jika kondisi psikologis ibu tertekan atau maka dengan sendirinya produksi ASI akan terganggu," ujar Naomi dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.

Oleh karena itu penting bagi ibu untuk menyiapkan psikologis ibu agar ASI nya bisa lancar keluar.

Dia menjelaskan banyak ibu yang tak bisa memproduksi ASI dengan baik akibat adanya faktor tekanan dari orang terdekatnya sendiri.

"Misalnya ASI tidak keluar empat hari, biasanya ibu atau mertua langsung mendesak agar anak diberikan susu formula atau air putih," tambah dia.

Dia juga menjelaskan dalam beberapa kasus, ASI memang tidak langsung keluar saat bayi baru lahir.

"Situasi itu membuat suami atau anggota keluarga lain tak sabar untuk memberikan bayi susu formula," tambah dia.

Produksi ASI seorang ibu tidak ada hubungannya dengan ukuran payudara atau puting susu. Menurut dia payudara kecil juga bisa memproduksi ASI berlimpah.

Untuk membuat ASI tetap berlimpah maka diperlukan rangsangan hisapan mulut bayi. Agar sukses menyusui, maka sebaiknya ibu harus banyak memerah susunya di sela-sela kerja.

"Jangan sampai biasanya memerah ASI setiap tiga jam sekali, tapi karena ditunda jadi memerah lima jam sekali. Jika seperti itu lama kelamaan produksi ASI berkurang," tukas dia.(WDY)

Pewarta:

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2016