Denpasar (Antara Bali) - Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Provinsi Bali Ketut Lihadnyana mengatakan tiga desa penerima program "Gerakan Pembangunan Desa Terpadu" (Gerbangsadu) Mandara memerlukan perhatian yang lebih karena mengalami sejumlah persoalan.
"Dari 202 desa yang sudah menerima dana program Gerbangsadu, tiga memerlukan perhatian yang lebih. Ini yang akan terus kami kawal," kata Lihadnyana, di Denpasar, Sabtu.
Ia mengemukakan tiga desa tersebut adalah Desa Lokapaksa dan Julah di Kabupaten Buleleng, serta Desa Kertabuana di Kabupaten Karangasem. Ketiga desa itu menerima dana Gerbangsadu masing-masing sebesar Rp1,02 miliar pada 2012 atau saat periode pertama peluncuran program tersebut.
Permasalahan tiga desa itu, di antaranya ujar Lihadnyana karena seringkali mengadakan pergantian manajemen pengelola, pergantian kepengurusan, perubahan peruntukan dana dari rencana awal, hingga masalah tidak semua masyarakat miskin di sana mau meminjam dana Gerbangsadu yang dapat digunakan untuk kegiatan ekonomi produktif.
Lihadnyana menambahkan, dari Rp1,02 miliar dana Gerbangsadu Mandara yang diberikan pada desa miskin, sebanyak Rp800 juta dapat dimanfaatkan kegiatan ekonomi produktif, Rp200 juta untuk pembangunan infrastruktur dan Rp20 juta untuk dana operasional.
Pada awalnya, program Gerbangsadu menyasar 82 desa di Bali dengan tingkat kemiskinan di atas 35 persen, barulah di tahun-tahun berikutnya menyasar desa-desa dengan tingkat kemiskinan yang lebih rendah dari 35 persen.
"Oleh karena di lapangan masih ada sejumlah persoalan, kami berupaya untuk terus menyempurnakan polanya. Sekarang ini terus kami perbaiki sistemnya dan untuk 2016 sudah dipersiapkan betul desanya, penerima manfaat `by name by address` termasuk jenis usahanya," ujarnya.
Lihadnyana tidak memungkiri, kadang dari pihak desa sembarangan saja memberikan bantuan kegiatan ekonomi produktif, dengan demikian pihaknya harus lebih cermat dalam melakukan identifikasi dan verifikasi.
"Setelah itu lebih cermat juga melakukan monitoring awal pada saat dana itu dicairkan," ucapnya. (WDY)
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2015
"Dari 202 desa yang sudah menerima dana program Gerbangsadu, tiga memerlukan perhatian yang lebih. Ini yang akan terus kami kawal," kata Lihadnyana, di Denpasar, Sabtu.
Ia mengemukakan tiga desa tersebut adalah Desa Lokapaksa dan Julah di Kabupaten Buleleng, serta Desa Kertabuana di Kabupaten Karangasem. Ketiga desa itu menerima dana Gerbangsadu masing-masing sebesar Rp1,02 miliar pada 2012 atau saat periode pertama peluncuran program tersebut.
Permasalahan tiga desa itu, di antaranya ujar Lihadnyana karena seringkali mengadakan pergantian manajemen pengelola, pergantian kepengurusan, perubahan peruntukan dana dari rencana awal, hingga masalah tidak semua masyarakat miskin di sana mau meminjam dana Gerbangsadu yang dapat digunakan untuk kegiatan ekonomi produktif.
Lihadnyana menambahkan, dari Rp1,02 miliar dana Gerbangsadu Mandara yang diberikan pada desa miskin, sebanyak Rp800 juta dapat dimanfaatkan kegiatan ekonomi produktif, Rp200 juta untuk pembangunan infrastruktur dan Rp20 juta untuk dana operasional.
Pada awalnya, program Gerbangsadu menyasar 82 desa di Bali dengan tingkat kemiskinan di atas 35 persen, barulah di tahun-tahun berikutnya menyasar desa-desa dengan tingkat kemiskinan yang lebih rendah dari 35 persen.
"Oleh karena di lapangan masih ada sejumlah persoalan, kami berupaya untuk terus menyempurnakan polanya. Sekarang ini terus kami perbaiki sistemnya dan untuk 2016 sudah dipersiapkan betul desanya, penerima manfaat `by name by address` termasuk jenis usahanya," ujarnya.
Lihadnyana tidak memungkiri, kadang dari pihak desa sembarangan saja memberikan bantuan kegiatan ekonomi produktif, dengan demikian pihaknya harus lebih cermat dalam melakukan identifikasi dan verifikasi.
"Setelah itu lebih cermat juga melakukan monitoring awal pada saat dana itu dicairkan," ucapnya. (WDY)
Editor : I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2015