Denpasar (Antara Bali) - Sebanyak 25 seniman lukis dan patung menggelar pameran bersama Seni Rupa Chronotope di Richstone Art & Designe Kuta, Kabupaten Badung, Bali selama sebulan penuh mulai 29 November-29 Desember 2015.

"Pameran bersama `Chronotope` kali ini merupakan istilah yang digunakan Mikhail Bakthin dalam analisa teks sastra yakni novel, sengaja digunakan sebagai tajuk pameran tanpa harus menghubungkannya dengan dunia sastra," kata salah seorang peserta pameran tersebut, Ketut Putrayasa, di Denpasar, Minggu.

Ia mengatakan, ke-25 seniman yang ikut dalam pameran kali ini masing-masing Anthok S, I Gusti Ngurah Marianta, I Ketut `Kabul- Susana, Made Gunawan, Made Galun Wiratmaja, Made Wiradana, Made Supena, I Nyoman Diwarupa, Putu `Bonuz-Sudiana, Lekung Sugantika, Matthew S. Abel, Nyoman Sujana Keyem, Sinjang Poer, Yoesoef Olla, dan Wayan Suja.

Selain itu juga sepuluh pematung yang terdiri atas Diah Pratiwi, Dewa Agung Mandala Utama, Ida Bagus Alit, Ida Bagus Gede Ari Munartha, I Made Narta, I Gde Koi Sanda, I Made Santika Putra, Ketut Putrayasa, I Komang Wikrama dan I Wayan Budiarta.

Chronotope hadir sebagai tajuk dimaksudkan untuk merangkum pembacaan karya-karya seni rupa yang menjadi cerminan kesadaran seniman peserta dalam memahami ruang dan waktu.

Ketut Putrayasa menjelaskan, tema yang diusung dalam pameran kali ini memberikan gambaran bagaimana seniman mengimajinasikan ruang-waktu menurut perspektif masing-masing.

Dalam konteks pameran ini, pembacaan juga bisa berlaku, apakah sebuah pameran hanya semata menghasilkan ruang untuk memposisikan karya dalam sebuah desain pameran yang berusaha merajut kembali hubungan satu karya dengan karya-karya lainnya.

Atau sebuah pameran merupakan penyingkapan ruang untuk sebuah karya mendapatkan ilusi eksternalnya melalui tatapan publik. Kemudian berlangsung internalisasi baru antara publik dengan karya seni.

Ketut Putrayasa, alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu menambahkan ruang-waktu dalam pengalaman tubuh diskursus kontemporer tentang matra ruang.

Dalam sejarah filsafat mengantar pada kesimpulan bahwa ruang telah dibebaskan dari materi melalui peranan tubuh dalam meruangkan sekitarnya.

"Ruang bukan melulu dimengerti sebagai sesuatu yang berdimensi dan terukur sebagaimana pandangan yang meyakini ruang-waktu dirumuskan secara objektif. Ruang bukanlah sesuatu yang tetap dan pasif," katanya.

Oleh sebab itu ruang tidak melulu di luar kesadaran, namun juga dihayati oleh tubuh dan kemampuan perseptualnya.

Diskursus tentang ruang tidak bisa dilepas dari diskursus tubuh dan kemenubuhan. Untuk itu tubuhlah yang menemukan dimensionalitas ruang. Tubuh sebagai titik nol yakni poros penghayat ruang. Tubuh dan ruang itu manunggal sehingga kita dapat menyebutnya leibesraum (ruang-tubuh), ujarnya. (WDY)

Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2015