Jakarta (Antara Bali) - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi mengungkapkan, saat ini terdapat 23,5 kargo gas alam cair (LNG) dari Kilang Bontang, Kaltim yang belum terjual.

         Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi saat rapat kerja Komisi VII DPR dengan Menteri ESDM Sudirman Said di Jakarta, Kamis mengatakan, pihaknya belum mendapat harga penjualan yang cocok untuk LNG ekses Bontang tersebut.

         "Kami maunya harga 10 dolar AS per MMBTU, sementara pembeli minta 8 dolar per MMBTU. Jadi, belum cocok," katanya.

         Menurut dia, penjualan ekses LNG Bontang tersebut dilakukan PT Pertamina (Persero).

         Amien juga mengatakan, pada 2014 sejumlah konsumen domestik juga tidak menyerap gas yang sudah dialokasikan.

         Ia mencontohkan, PT PGN Tbk tidak bisa menyerap satu kargo LNG karena FSRU Lampung belum siap. Lalu, PLN juga tidak bisa menyerap satu kargo LNG.

         Sektor transportasi BBG dari alokasi 46 MMSCFD, lanjutnya, hanya terserap 6 MMSCFD dan jaringan gas kota dari 7,3 MMSCFD terealisasi 3 MMSCFD. "Jadi, sebenarnya gas sudah siap, hanya 'user' yang belum siap," katanya.

         Amien menambahkan, kalau tidak bisa terjual, maka produksi gas harus dihentikan. Namun, lanjutnya, konsekuensinya adalah produksi gas dan kondensat bakal turun. Pada 2014, sebanyak 10 kargo tercatat tidak terjual.

         Akibatnya, pada November 2014, produksi gas menurun akibat sumur ditutup.

         Sesuai dengan Annual Delivery Program (ADP) LNG Bontang pada 2014, ekses 23,5 kargo (uncommited cargo) itu dikarenakan berakhirnya kontrak LNG Badak IV pada 2013 sebesar 40 kargo LNG dan akan berakhirnya kontrak LNG Korea II pada Oktober 2014 sebesar 20,4 kargo.

         Sementara, realisasi pemasaran "uncommited" kargo LNG Bontang pada 2014 sebesar 15 kargo LNG Bontang. (WDY)

Pewarta: Oleh Kelik Dewanto

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2015