Denpasar (Antara Bali) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali mencatatat sembilan terduga (supect) coronavirus atau virus Mers-CoV dinyatakan negatif sejak Januari hingga Mei 2014.

"Hasil pemeriksaan laboratorium Biologi Molekuler Universitas Udayana dan Litbangkes Kementerian Kesehatan dinyatakan negatif," kata Kepala Dinkes Bali, dr. Ketut Suarjaya, MPPM, di Denpasar, Senin.

Sembilan pasien yang dinyatakan negatif tersebut, lanjut dia, hanya tujuh orang yang menjalani rawat inap di ruang isolasi RSUP Sanglah dan dua orang dilakukan rawat jalan.

Ia mengatakan kasus koronavirus di Bali terhitung mulai pada (25/1) lalu menyerang salah seorang wisatawan asal Timur Tengah, AN (71) yang mengalami flu dan deman yang tak kunjung menurun, akan tetapi setelah beberapa hari pasien dirawat akhirnya langsung meninggal.

"Namun, Setelah dilakukan pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) pasien tersebut dinyatakan negatif," ujarnya.

Kemudian pasien kedua warga Bali yang baru saja umrah hasil pemeriksaan PCR tersebut juga dinyatakan negatif.

Pasien ketiga berinisial AS (50) yang meninggal dunia, Rabu (7/5) saat dalam perawatan di RSUP Sanglah sejak Selasa (6/5), meskipun pada akhirnya AS juga dinyatakan negatif terinfeksi MERS-CoV berdasarkan hasil pemeriksaan Laboratorium Biomol Unud dan Litbangkes Kemenkes.

Pasien keempat berinisial AOk yang dirawat sejak Kamis (8/5) dan sudah dapat dipulangkan pada Minggu (11/5).

Kemudian pasien kelima berinisial KD (55) berjenis kelamin perempuan yang tinggal di Desa Karangsokong, Kabupaten Karangasem, yang memiliki riwayat umrah pada 17 hingga 29 April 2014.

Dua orang pasien terduga koronavirus yang merupakan petugas kesehatan yang tidak menjalani perawatan di RSUP Sanglah karenakan kontak langsung dengan pasien terduga Mers-CoV. Namun, hanya dilakukan mengambil sample darah untuk diperiksa.

"Data yang sudah masuk dari Dinkes Provinsi Bali ada 9 orang yakni dua orang tidak dirawat dan tujuh dilakukan perawatan di ruang isolasi. Namun, hasilnya juga negative," ujarnya.

Ia menambahkan penyakit tersebut dapat menular apabila penderita mengalami gejala seperti batuk, demam dan sesak.

"Jika positif, tentu akan dirawat di ruang isolasi juga," ujar Suarjaya. (WDY)

Pewarta: Oleh I Made Surya

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2014