Melacak Perubahan Iklim lewat Lukisan Matahari Terbenam

Rabu, 26 Maret 2014 10:36 WIB

Jakarta (Antara Bali) - Para ilmuwan melacak perubahan iklim akibat letusan gunung berapi lewat warna dalam lukisan-lukisan matahari terbenam para seniman.

Saat meletus, gunung-gunung api memuntahkan abu dan partikel pantul yang disebut aerosol ke atmosfer.

Ledakan besar bisa mendinginkan planet (dengan memantulkan sinar matahari) dan menjadikan langit petang merah tua, membuat matahari terbenam tampak jelas seperti saat Gunung Krakatau di Indonesia meletus tahun 1883.

Beberapa sejarawan menduga, langit berwarna oranye dan merah pada lukisan Edvard Munch "The Scream" yang dibuat tahun 1893 terinspirasi letusan Krakatau.

Dengan mempelajari warna-warna matahari terbenam dalam lukisan, para ilmuwan iklim ingin mengukur pendinginan alami yang terjadi setelah letusan gunung-gunung api bersejarah.

Para ilmuwan menganalisis 554 potret digital lukisan di Tate Gallery dan National Gallery di London. Banyak di antaranya buatan seniman lanskap  J.M.W Turner, yang menangkap perubahan tingkat aerosol di Inggris setelah letusan Gunung Tambora di Indonesia tahun 1815.

Tambora memicu "tahun tanpa musim panas" ketika pendinginan global merusak tanaman musim panas dan menyebabkan ribuan orang kelaparan, demikian menurut hasil studi yang dipublikasikan di jurnal Atmospheric Chemistry and Physics pada 25 Maret.

Tim peneliti juga menemukan sekitar 50 gambar para artis lain yang dilukis dalam tiga tahun letusan gunung berapi antara tahun 1500 dan 2000.

Dengan mengukur warna merah dan hijau pada lukisan, para peneliti dapat mengetahui tingkat polusi aerosol pada masa lalu.

Lebih banyak aerosol akan memerahkan mentari tenggelam, karena partikel-partikel kecil itu lebih kecil dibandingkan panjang gelompang cahaya yang tampak.

Semakin panjang panjang gelombang cahaya merah melalui aerosol, semakin pendek panjang gelombang cahaya biru dan ungu diserakkan oleh partikel aerosol.

"Terlepas dari sekolah dan gayanya, semua pelukis memberikan informasi aerosol yang cukup akurat ketika rasio merah/hijau diuji," kata penulis utama studi itu, Christos Zerefos, profesor fisika atmosfer di Academy of Athens, Yunani, dalam wawancara lewat surel.

Studi ini membandingkan aerosol dari lukisan-lukisan itu dengan data-data lingkungan seperti inti es dan menemukan kesepakatan yang bagus, kata Zerefos seperti dilansir laman LiveScience.

Sejak awal Era Industri tahun 1850an, polusi aerosol buatan manusia di atmosfer meningkat.

"Luar biasa bahwa rasio merah/hijau mengikuti perubahan di atmosfer dengan metode yang benar-benar berbeda dengan ketepatan yang demikian," kata Zerefos.

Hasil penelitian itu bisa membantu para ilmuwan memperbaiki perkiraan fenomena atmosfer modern yang disebut peredupan global akibat aerosol yang menutupi cahaya matahari.

Dengan melihat bagaimana gunung api mendinginkan Bumi pada masa lalu, para ilmuwan bisa mendapatkan pemahaman menyeluruh tentang pengaruh aerosol modern.

Penghitungan efek yang sudah lama hilang ini dapat membantu memperbaiki pemodelan dalam memprediksi pemanasan global masa depan.

"Kami ingin memberikan alternatif cara untuk mengeksploitasi informasi lingkungan atmosfer pada masa lalu ketika belum ada instrumen pengukuran," Zerefos. (i018)

Pewarta:

Editor : Nyoman Budhiana


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2014

Terkait
Terpopuler