Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gianyar, Bali, menerjunkan tim ahli untuk mempercepat penurunan balita tengkes (stunting).

“Kami menyasar balita sesuai dengan data hasil pengukuran yang telah ditetapkan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Gianyar Ni Nyoman Ariyuni di Gianyar, Bali, Selasa.

Adapun para ahli yang dikerahkan untuk intervensi stunting itu yaitu dokter spesialis anak, psikolog dan nutrisionis dari rumah sakit pemerintah dan swasta.

Fokus tim ahli tersebut yakni pemantauan tumbuh kembang, edukasi gizi, peningkatan pola asuh, serta penguatan peran keluarga dan masyarakat dalam pencegahan stunting sejak dini.

Mereka disebar di delapan desa yang masih memiliki persentase stunting di atas enam persen.

Desa itu yakni Desa Kedisan dengan jumlah balita stunting sebanyak 29 orang atau prevalensi menyentuh sembilan persen. 

Kemudian Desa Taro dengan sasaran sebanyak 50 orang balita dengan prevalensi sebesar 8,8 persen, Desa Pejeng Kaja terdapat 25 balita yang terindikasi stunting dengan prevalensi 7,9 persen.

Selanjutnya, Desa Pupuan sebanyak 30 balita dengan prevalensi  7,8 persen, Desa Manukaya dengan sasaran sebanyak 47 balita dengan prevalensi 7,2 persen, Desa Puhu juga prevalensinya 7,2 persen dengan jumlah balita sebanyak 20 orang. 

Tak hanya itu, Desa Singakerta terdapat 40 orang balita terindikasi stunting dengan prevalensi sebesar  7,1 persen dan Desa Kelusa sebanyak 16 orang balita dengan prevalensi stuntingnya 6,8 persen.

Pendampingan dari tim ahli itu dilakukan di delapan desa setelah mencermati hasil pengukuran serentak pada November 2025.

Ariyuni menambahkan pendampingan mengacu pada kebijakan nasional pencegahan dan percepatan penurunan stunting yang mengamanatkan intervensi spesifik dan intervensi sensitif secara konvergen, terpadu, dan berkelanjutan.

“Target kami intervensi stunting dapat berjalan lebih efektif, terintegrasi, dan berkelanjutan, sehingga mampu menurunkan angka stunting secara signifikan,” imbuhnya.

Sementara itu, secara nasional Kabupaten Gianyar memiliki angka stunting terendah nomor dua di Indonesia karena berhasil menurunkan prevalensi dari 6,3 persen pada 2022 menjadi 5,4 persen pada 2024, berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 oleh Kementerian Kesehatan RI.

Berkat capaian itu Gianyar mendapatkan insentif fiskal Rp5,6 miliar dari Kementerian Dalam Negeri.

Di posisi pertama kasus stunting terendah diraih Kabupaten Klungkung, Bali, sebesar 5,2 persen dan posisi ketiga Kota Tanjungbalai sebesar 5,6 persen.

Pemkab Gianyar menargetkan pada 2026 prevalensi balita stunting di daerah seni itu menurun bertahap mencapai 4,5 persen.

 

 

 

Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

Editor : Ardi Irawan


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2026