Kabupaten Buleleng, Bali melalui Yayasan Swatantra Pangan Nusantara (YSPN) menjadi percontohan ketahanan pangan berbasis sekolah sebagai upaya membangun kemandirian pangan sejak dini.
"Ini bukan sekadar aktivitas menanam. Gerakan ini sebagai sebuah upaya sistematis membangun ketahanan pangan dengan melibatkan generasi muda," kata Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Akmal Malik saat peluncuran serentak di empat sekolah di sekitar Kota Singaraja, Bali, Senin.
Gerakan tersebut bertujuan membangun kemandirian pangan melalui sekolah ini dimulai di SD Negeri 3 Banjar Jawa, SMP Negeri 1 Singaraja, SMA Negeri 1 Singaraja, dan SMK Negeri 3 Singaraja.
"Ini adalah program ketahanan pangan berbasis sekolah. Fokus kami adalah membangun budaya dan etos menanam sejak dini, yang menjadi fondasi kemandirian pangan,” jelasnya.
Akmal Malik yang juga merupakan salah satu Pembina YSPN itu juga mengatakan, Buleleng dipilih sebagai percontohan di Pulau Dewata karena dinilai memiliki semangat dan potensi yang besar.
Gerakan serupa sebelumnya telah dilakukan di lima provinsi lain.
"Kami ingin budaya menanam menjadi nilai baru di Bali. Di samping budaya seni yang sudah mendunia. Ini untuk menjawab kebutuhan pangan yang berkelanjutan,” kata Akmal Malik.
Sebagai dukungan, YSPN memberikan bantuan 200 bibit tanaman kepada masing-masing sekolah tersebut.
Bibit-bibit ini akan ditanam dan dirawat oleh siswa.
Selain itu, diberikan juga bantuan sosial berupa beras 5 kilogram untuk siswa dari keluarga kurang mampu di setiap sekolah.
Sekretaris Daerah Kabupaten Buleleng Gede Suyasa menyatakan komitmen penuh pemerintah daerah.
Prinsipnya adalah satu siswa, satu bibit. Dengan sekitar 1.200 siswa di lokasi ini, akan terkumpul 1.200 tanaman yang dirawat.
"Ini kontribusi nyata untuk stabilisasi pasokan dan harga pangan lokal,” ujarnya.
Pihaknya memberikan contoh harga cabai yang sering melonjak tinggi saat hari raya keagamaan di Bali, nantinya bisa ditekan dengan gerakan produktif seperti ini.
Jika siswa bisa panen dari tanaman mereka sendiri, tekanan harga di pasar dapat dikurangi.
Editor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2026