Denpasar (Antara Bali) - Masyarakat Maluku yang berdomisili di Bali menggelar tradisi makan "patita" atau makan bersama yang menunjukkan kerukunan antar warga Ambon yang memeluk agama Islam dan Kristen.

"Tradisi ini tetap kami pertahankan di sini dan adalah bagian dari peringatan hari Pattimura," kata Samuel Uruila selaku Ketua Ikatan Masyarakat Maluku (Ikemal) Bali di Denpasar, Sabtu.

Tradisi dari tanah nenek moyang tetap dipertahankan di Bali. Hal ini untuk menjaga kerukunan dan keakrabran di antara warga Ambon yang bermukim di Pulau Dewata.

Setiap keluarga harus membawa makanan khas Maluku, seperti ketupat santan, sayur urab dan papeda, yang dikumpulkan dalam satu tempat. "Nanti seluruh makanan itu disantap bersama-sama tanpa melihat latar belakang agama ataupun jabatan, semuanya bersatu sebagai keluarga besar," ucapnya.

Saat ini masyarakat Maluku yang berada di Pulau Dewata ada sebanyak 1.200 kepala keluarga dengan jumlah sebanyak 3.500 jiwa. "Mereka tersebar di seluruh kabupaten/kota di Bali. Sebagai paguyuban yang cukup besar jumlahnya berusaha selalu menjaga kerukunan dan membantu pembangunan di daerah ini," ucapnya.

Sebelum melakukan makan bersama, sejumlah tokoh agama baik Muslim maupun Kristen membacakan doa bergantian dengan harapan tercipta kedamaian bagi masyarakat Maluku di manapun berada.

Pada kesempatan itu Wakil Wali Kota Ambon Sam Lau Consina yang ikut dalam makan bersama itu menyerahkan sumbangan sebesar Rp10 juta. (IGT)

Pewarta: Oleh IGK Agung Wijaya

Editor : I Gusti Ketut Agung Wijaya


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2013