Solo (Antara Bali) - Kenaikan retribusi pada objek pendapatan asli daerah (PAD) di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Kota Surakarta tidak akan mempengaruhi besaran harga karcis tanda masuk untuk menonton pertunjukan wayang orang Sriwedari.

"Ya untuk itu misi pelestarian budaya dinilai lebih penting daripada sekedar mengejar kenaikan target PAD," kata Kepala Disbudpar Pemkot Surakarta Widdy Srihanto di Solo, Kamis.

Ia mengatakan, sejak dulu sebelum perda retribusi disahkan sampai sekarang, harga tiket melihat pertunjukan wayang orang tetap sama, yakni Rp3.000 per orang. Belum pernah ada kenaikan, meskipun angka segitu sudah tidak relevan untuk sekelasnya. Ini bukan bisnis, namun prioritas pelestarian, katanya.

Dikatakan, tarif melihat pertunjukan kesenian itu di Gedung Wayang Orang (GWO) Sriwedari sudah berlaku selama belasan tahun. Pada awalnya pertunjukan sepi penonton meskipun tarif masuk relatif murah.

Peningkatan jumlah pengunjung terhitung signifikan setelah manajemen pertunjukan wayang orang Sriwedari dibenahi. Disbudpar menghitung jumlah kunjungan mencapai 28.000 penonton pada 2012 silam.

"Ya biar saja tarifnya tetap Rp3.000, karena itu bukan persoalan. Dengan tarif itu saja, tahun lalu sudah dapat mengumpulkan Rp82 juta. Ini lebih baik daripada harga tiketnya mahal namun sepi penonton," katanya.

Ia mengatakan, untuk pembenahan manajemen selain menyentuh Sumber Daya Manusia (SDM), juga mengemas cerita secara lebih efektif. Pertunjukan digelar Senin-Sabtu dengan durasi 1,5 jam dari sebelumnya tiga jam lebih. Tersedia dua layar besar di samping panggung untuk menampilkan narasi berbahasa asing. (LHS/T007)

Pewarta:

Editor : Nyoman Budhiana


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2013