Rafael Nadal menyataan kekuatan servis keduanya adalah di antara faktor terbesar yang membuat dia tetap kompetitif setelah hampir 20 tahun di ATP Tour sekalipun pernah diserang berbagai cedera.

Petenis berusia 33 tahun itu berhasil tetapi di puncak tenis pada 2019 dengan menjuarai dua turnamen besar dan dua turnamen Masters 1000 yang akhirnya menyalip Novak Djokovic sebagai petenis nomor satu dunia pada akhir tahun yang merupakan kelima kalinya selama karirnya.

Dalam laman tennisworldusa.org, Rafa berbagi rahasia dia tetap perkasa pada usia sesenior itu meski berulang kali disergap cedera.

Baca juga: Andreescu dipastikan absen ajang pemanasan Australia Open
Baca juga: Tim tenis Indonesia beradaptasi dengan lapangan

Kiat pertamanya adalah servis keduanya yang disebutnya sebagai faktor pengubah dan elemen terbesar yang banyak membantunya mencatat 90% service game (memenangkan gim ketika memegang servis) yang untuk pertama kali terjadi sejak 2010.

Tapi servis pertamanya juga menjadi kiat penting Nadal lainnya yang membuat petenis Spanyol itu tetap menawan sepanjang 2019 karena mencatat persentase terbaik dengan hanya 231 kali dipatahkan dari 59 pertandingan di luar Piala Davis.

"Keputusan untuk terus mencoba dan meningkat membantu saya bermain setiap hari," kata Nadal dalam laman tennisworldusa.org.

Kunci berikutnya adalah menerima hasil buruk karena memang tidak bermain baik. "Ini membuatmu tetap positif ketika segalanya tidak selaras dengan keinginanmu. Saya memasang beberapa sasaran tingi sebelum musim diawali dan ketangguhan mental-lah yang mencapai sasaran-sasaran itu."

Kunci lainnya adalah siap beradaptasi dengan lingkungan dan perubahan. "Dalam hal tenis, saya mampu beradaptasi dengan keadaan dan perubahan sejumlah hal bersama tim saya, mulai bermain jauh lebih agresif."

"Saya telah mengayunkan langkah ke depan yang penting pada servis saya sepanjang tahun ini, khususnya menuju akhir musim ini," kata Nadal.



 

Pewarta: Jafar M Sidik

Editor : I Komang Suparta


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2019