Nusa Dua (Antara Bali) - Para penyewa stan di arena pameran "ASEAN Fair" di Pulau Peninsula, Nusa Dua, mengeluhkan sepinya pengunjung, sehingga peserta, terutama dari berbagai daerah, kecewa dan mengeluhkan rugi besar.
Bahkan, Sabtu, saat pembukaan stan di bawah payung Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) yang ditandai pemukulan gong dan pentas tari-tarian daerah, hanya terlihat belasan orang.
"Pengunjung sangat sepi, hanya kami berdua bersama sekitar sepuluh orang dari pengelola stan dan pejabat dari kementerian itu," kata Komara, pengunjung warga Jimbaran yang hadir bersama rekannya, Novi.
Selain jarang ada pengunjung, di areal "pulau bukit" di ujung selatan kawasan Pantai Nusa Dua tersebut suasananya juga sangat panas.
"Kami ke sini dengan pakaian rapih mengenakan batik, ternyata cuacanya panas sekali. Keberadaan kipas angin embun 'mist fan' tak terasa bisa menyejukkan udara yang panas," kata Novi.
Peserta pameran kini merupakan gembong ketiga, sejak kegiatan yang dimaksudkan untuk menunjang KTT ASEAN dengan tema "Hello ASEAN" itu dibuka oleh Presiden Yudhoyono, 24 Oktober 2011.
Peserta pameran sebelumnya banyak yang mengeluhkan kondisi tempat pameran yang jauh dan pengunjungnya sepi. Selain itu mereka juga menyayangkan tidak adanya pemberitahuan secara jelas dari pihak panitia mengenai kondisi tempat pameran.
Beberapa peserta pameran yang telah menutup stannya, menyangka Peninsula sebagai nama gedung di arena Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC).
Hal itu mengingat pembukaan kegiatan ASEAN Fair berlangsung di gedung megah yang baru mulai digunakan untuk KTT ASEAN, 17-19 November ini.
Keluhan datang dari peserta "expo" hasil olahan makanan daerah (1-5/11) maupun pengusaha multi produk yang mengikuti kegiatan itu pada 6-10 November.
Peserta pameran dari Madura bahkan memilih segera menutup stan-nya dan menjual barang dagangannya ke toko-toko di sekitar Nusa Dua hingga Kuta.
Seorang pemerhati menyayangkan penyelenggaraan pameran di Peninsula yang dinilai tidak profesional dan membuat banyak pengusaha harus menanggung kerugian besar.
Pihak Bali Tourism Development Corporation Center (BTDC), selaku pengelola kawasan wisata elite itu, belum berhasil dimintai penjelasannya. Nomor telepon seluler humas BTDC ketika dihubungi tidak aktif.(*)
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2011
Bahkan, Sabtu, saat pembukaan stan di bawah payung Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) yang ditandai pemukulan gong dan pentas tari-tarian daerah, hanya terlihat belasan orang.
"Pengunjung sangat sepi, hanya kami berdua bersama sekitar sepuluh orang dari pengelola stan dan pejabat dari kementerian itu," kata Komara, pengunjung warga Jimbaran yang hadir bersama rekannya, Novi.
Selain jarang ada pengunjung, di areal "pulau bukit" di ujung selatan kawasan Pantai Nusa Dua tersebut suasananya juga sangat panas.
"Kami ke sini dengan pakaian rapih mengenakan batik, ternyata cuacanya panas sekali. Keberadaan kipas angin embun 'mist fan' tak terasa bisa menyejukkan udara yang panas," kata Novi.
Peserta pameran kini merupakan gembong ketiga, sejak kegiatan yang dimaksudkan untuk menunjang KTT ASEAN dengan tema "Hello ASEAN" itu dibuka oleh Presiden Yudhoyono, 24 Oktober 2011.
Peserta pameran sebelumnya banyak yang mengeluhkan kondisi tempat pameran yang jauh dan pengunjungnya sepi. Selain itu mereka juga menyayangkan tidak adanya pemberitahuan secara jelas dari pihak panitia mengenai kondisi tempat pameran.
Beberapa peserta pameran yang telah menutup stannya, menyangka Peninsula sebagai nama gedung di arena Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC).
Hal itu mengingat pembukaan kegiatan ASEAN Fair berlangsung di gedung megah yang baru mulai digunakan untuk KTT ASEAN, 17-19 November ini.
Keluhan datang dari peserta "expo" hasil olahan makanan daerah (1-5/11) maupun pengusaha multi produk yang mengikuti kegiatan itu pada 6-10 November.
Peserta pameran dari Madura bahkan memilih segera menutup stan-nya dan menjual barang dagangannya ke toko-toko di sekitar Nusa Dua hingga Kuta.
Seorang pemerhati menyayangkan penyelenggaraan pameran di Peninsula yang dinilai tidak profesional dan membuat banyak pengusaha harus menanggung kerugian besar.
Pihak Bali Tourism Development Corporation Center (BTDC), selaku pengelola kawasan wisata elite itu, belum berhasil dimintai penjelasannya. Nomor telepon seluler humas BTDC ketika dihubungi tidak aktif.(*)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2011