Wakil Bupati (Wabup) Bangli Sang Nyoman Sedana Arta, didampingi Sariasih Sedana Arta, menghadiri Penglukatan Agung Banyu Pinaruh yang diselenggarakan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Bangli bekerja sama dengan Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN), Minggu

Acara yang dipusatkan di Pura Taman Sari, Desa Pakraman Sidembunut, dipuput oleh Ida Pedanda Gede Putra Temuku, dari Gria Jaksa Manuaba, Banjar Pande Bangli. Acara ini juga dihadiri oleh puluhan peserta dari perwakilan siswa SMA/K dilingkungan Kota Bangli dan masyarakat umum.

Wabup Sedana Arta pada kesempatan itu mengatakan penglukatan agung yang diselenggarakan seragkaian Hari Saraswati dan Banyu Pinaruh itu merupakan yang pertama kali di laksanakan di Kabupaten Bangli.

Menurut dia, kegiatan ini merupakan implementasi dari dukungan terhadap visi misi Gubernur Bali yakni Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yang dalam hal ini adalah Jana Kertih dan Atma Kertih.

Oleh karenanya, Pemerintah Kabupaten Bangli  sangat mengapresiasi dan menyambut baik kegiatan seperti ini. Ia juga mengaku siap memberi dukungan terhadap kegiatan ini, sehingga ke depan penglukatan agung Banyu Pinaruh yang dikomandoi oleh PHDI Bangli, bisa dilaksanakan secara berkelanjutan dengan cakupan yang lebih besar.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Bangli, saya sampaikan apresiasi kepada PHDI atas terlaksananya penglukatan agung hari ini. Kedepan Pemerintah Kabupaten Bangli siap memberikan dukungan, sehingga kegiatan ini bisa dilaksanakan secara berkelanjutan,” kata Wabup Sedana Arta.

Sementara itu, Ketua PHDI Bangli Nyoman Sukra menjelaskan, berdasarkan keyakinan Hindu, Banyu Pinaruh  berasal dari kata Banyu berarti air dan pinaruh artinya pangeweruh atau pengetahuan. Secara filosofi Banyu Pinaruh bermakna membersihkan atau menyucikan diri dengan air ilmu pengetahuan, karena memang pikiran yang kotor atau kegelapan hanya bisa dibersihkan dengan pengetahuan suci.

Menurut Nyoman Sukra, dahulu sebelum adanya kegiatan penglukatan agung banyu pinaruh, umumnya masyarakat melakukan kegiatan pengelukatan sendiri-sendiri. Baik itu ke pesucian, danau, ke sumber mata air dan ada juga yang ke laut. Bagi yang ingat, mereka sekedar bawa canang,  terus dihaturkan, setelahnya langsung mandi.

Ia juga menjelaskan, penglukatan agung banyu pinaruh yang dilaksanakan hari ini, menggunakan lima sumber mata air, yakni Tirta Sudamala, Tirta Pecampuhan, Tirta Segara Klotok, Tirta Bulakan dan Tirta Taman Sari. Sedangkan prosesi diawali dengan mandi atau pembersihan diri pada sumber mata air, setelahnya dilakukan upacaranya pebiukalaan, pembersihan perascita, durmengala, dijaya-jaya termasuk tirta yang akan digunakan untuk penglukatan agung dan ditutup dengan persembahyangan bersama.

“Mudah-mudahan pada pelaksanaan Banyu Pinaruwuh mendatang, kegiatan seperti ini bisa lebih ditingkatkan lagi. Dan PHDI akan lebih giat memasyarakatkan kegiatan ini," katanya.

Pewarta: Adi Lazuardi

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2019