Denpasar (Antaranews Bali) -  Pelajar dari SMP PGRI 3 dan SMP PGRI 2 Denpasar mengajak generasi muda untuk tidak gengsi mencintai kesenian Joged Bumbung, meskipun tari pergaulan itu sempat dinodai oleh ulah oknum tak bertanggung jawab yang mengemasnya menjadi hiburan berbau porno.

"Joged itu bukan sekadar tari pergaulan yang hanya diakui Bali, tetapi bahkan UNESCO mengakui. Jadi, generasi muda jangan menjauhi joged karena itu milik kita," kata Eva Anggreni selaku pembimbing garapan bertajuk Eling dari SMP PGRI 3 Denpasar belum lama ini saat pentas di ajang Bali Mandara Nawanatya III, di Taman Budaya Denpasar.

Menurut dia, permasalahan tari Joged Bumbung tak hanya sebatas pada berkembangnya aliran joged tak wajar yang dikenal oleh masyarakat sebagai joged jaruh atau joged porno. Namun, kesadaran masyarakat untuk memerangi joged jaruh juga perlu menjadi sorot perhatian. "Joged jaruh (porno) yang mencemari Joged Bumbung jangan dijadikan alasan bahwa semua tari Joged itu porno," ujar Eva.

Sebagai seorang guru seni budaya, Eva paham betul bahwa tari Joged sejatinya adalah tari pergaulan yang amat fleksibel dan klasik, sehingga pemahaman masyarakat akan joged bumbung dengan pakem-pakem yang asli perlu diingatkan, khususnya generasi muda yang akan meneruskan kelestarian budaya Bali.

Melalui garapan teatrikal bertajuk Eling, SMP PGRI 3 Denpasar berusaha mengingatkan bahwa joged sebagai tari pergaulann memiliki pakem-pakem tradisi khas yang patut dijaga. "Kebanyakan orang tua merasa resah kalau anaknya nonton joged, keresahan itu justru membuat anak muda semakin enggan untuk menonton joged," ujar Eva.

Melihat permasalahan itu, sebagai pembimbing Eva pun berusaha memberi pemahaman kepada siswa-siswinya bahwa kesenian joged bukanlah untuk dijauhi, melainkan kini kesenian Joged tengah merindukan sosok pelestari.

SMP PGRI 3 Denpasar yang dipimpin oleh I Made Suada ini pun tak hanya mempersembahkan garapan teatrikal, tari penyambutan khas SMP PGRI 3 Denpasar "Tari Aswelalita" pun menjadi pembuka yang manis dan ramah. Garapan ini pun setidaknya melibatkan 70 orang siswa-siswi dari tujuh ekstrakurikuler.

Mengangkat tema senada, SMP PGRI 2 Denpasar pun turut mengimbau bahwa keberadaan Joged Bumbung klasik perlu dilestarikan. "Bagaimana mengantisipasi Joged porno, melawan joged porno dengan joged klasik itulah yang ingin kami sampaikan," kata Made Yudana selaku guru pengawas garapan SMP PGRI 2 Denpasar.

Sekolah yang dipimpin oleh I Gede Wenten Aryasuda ini hanya menyiapkan 45 orang siswa dalam gelar Bali Mandara Nawanatya III dengan waktu persiapan hanya sebulan.

Namun, Yudana pun mengungkapkan sumbangsih dana dari pemerintah untuk sekolah-sekolah perlu ditingkatkan guna menunjang garapan berkesenian para seniman muda.

"Menepis joged jaruh kembali pada masyarakat Bali sendiri, maka masyarakat mutlak bertanya pada diri sendiri, sudahkah saya tidak gengsi mencintai joged? Jawabannya patut dibuktikan dengan aksi bukan hanya sekadar ambisi agar Joged Bumbung klasik dengan pakem tradisi bukanlah hanya sekadar ilusi," katanya. (WDY)

Pewarta: Ni Luh Rhismawati

Editor : Nyoman Budhiana


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2018