Denpasar (Antara Bali) - Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta meminta jalur pendakian di Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, ditutup sementara karena status aktivitas vulkanik yang meningkat dari normal menjadi waspada. 

"Pendakian disetop dulu jangan diberikan akses," kata Sudikerta setelah menghadiri serah terima jabatan Pimpinan OJK Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara di Denpasar, Jumat.

Menurut dia, pihaknya telah menginstruksikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk menghentikan sementara kegiatan pendakian hingga aktivitas vulkanik gunung berapi tertinggi di Bali itu normal kembali.

Selain meminta jalur pendakian ditutup, mantan Wakil Bupati Badung itu juga mengimbau warga setempat untuk mengantisipasi dengan tidak berada atau beraktivitas sementara waktu di dekat kaki Gunung Agung.

"Kami imbau masyarakat untuk tidak tinggal di sana karena situasi tidak bisa diprediksi," imbuhnya.

Ia meminta BPBD untuk melakukan edukasi dan sosialisasi kepada warga di sekitar kaki gunung setinggi 3.142 meter di atas permukaan laut itu agar mereka dapat melakukan antisipasi menyikapi perkembangan Gunung Agung.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menaikkan status Gunung Agung dari normal menjadi waspada pada level II berdasarkan analisis data visual, instrumental dan mempertimbangkan potensi ancaman bahaya pada Kamis (14/9) mulai pukul 14.00 Wita.

Badan Geologi juga meminta masyarakat di sekitar gunung dan pengunjung agar tidak beraktivitas di dalam area kawah dan seluruh area di dalam radius tiga kilometer dari kawah gunung atau pada elevasi 1.500 meter dari permukaan laut.

Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho melalui pesan aplikasi mengatakan dari Pos Pengamatan Gunungapi yang berlokasi di Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem telah merekam tujuh kali gempa vulkanik dalam dengan amplitudo dua hingga enam mm, lama gempa 12-23 detik.

Selain itu empat kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo tiga hingga enam mm dan lama gempa 7-13 detik dan saru kali gempa tektonik lokal dengan amplitudo enam mm dan lama gempa 37 detik pada Rabu (13/9/2017).

Badan Geologi juga melaporkan data terukur terkait dengan peningkatan status, seperti material vulkanik, tingkat kegempaan dan citra termal.

Pada indikator gempa vulkanik dalam mengindikasikan proses peretakan batuan di dalam tubuh gunungapi yang diakibatkan oleh tekanan fluida magmatik dari kedalaman mulai terekam meningkat jumlahnya secara konsisten sejak 10 Agustus 2017 dengan amplituda kegempaan vulkanik berkisar antara tiga mm sampai 10 mm.

Gunung Agung memiliki sejarah aktivitas erupsi yang dicirikan oleh erupsi yang bersifat eksplosif dan efusif dengan pusat kegiatan yang berada pada kawah.

Masih dilihat pada sejarah erupsi, potensi ancaman berupa bahaya berupa jatuhan piroklastik, aliran piroklastik, dan aliran lava.

Daerah yang berpotensi terancam jatuhan piroklastik dapat tersebar di sekeliling Gunung Agung tergantung pada arah angin.

Dengan kondisi aktivitas seperti saat ini apabila terjadi letusan, lanjut Sutopo, potensi bahaya diperkirakan masih berada di area tubuh Gunung Agung yang berada di lereng Utara, Tenggara dan Selatan gunung.

Sementara itu ancaman bahaya secara langsung berada di daerah utara gunung seperti di daerah aliran sungai Tukad Tulamben, Tukad Daya, Tukad Celagi yang berhulu di area bukaan kawah, Sungai Tukad Bumbung di Tenggara, Pati, Tukad Panglan dan Tukad Jabah di selatan. (WDY)

Pewarta: Pewarta: Dewa Wiguna

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2017