Denpasar (Antara Bali) - Penjualan hewan kurban berupa ternak kambing di Kota Denpasar, Bali, menjelang Idul Adha, terus mengalami kelesuan, bahkan sampai  H-3 belum banyak yang membeli, atau sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

"Beberapa bulan, jualan saya hanya laku sekitar 35 ekor kambing, padahal hari raya Idul Adha tahun lalu (2016) mampu menjual 135 ekor," kata seorang penjual ternak kambing, Pak Yull, saat ditemui di Dusun Wanasari yang lebih dikenal dengan Kampung Jawa, Kawasan Lumintang Denpasar, Senin.

Harga seekor kambing itu bervariasi antara Rp2 juta hingga Rp4,5 juta tergantung ukuran kecil, sedang dan paling besar. Pak Yull yang sudah 15 tahun berjualan ternak  kambing itu mendatangkan puluhan kambing dari Singaraja dan Pulau Jawa.

Sementara itu, penjual hewan kurban di kawasan Gatot Subroto, Imam Hanafi, mengaku, dirinya berjualan kambing  dan sapi selama 24 tahun .

"Di sini kebetulan tidak terlalu banyak yang berjualan hanya ada tiga tempat saja penjual kambing.  Di tengah lesunya penjualan dan ketatnya persaingan tentu mempengaruhi tingkat penjualan secara umum," ujar Imam Hanafi.

Ia mengaku, hasil penjualan hewan kurban juga menurun drastis, sampai saat ini baru laku sekitar 148 ekor kambing dan 24 ekor sapi, dibandingkan dengan tahun sebelumnya lebih dari 182 ekor kambing dan 56 ekor sapi.

Harga juga bervariasi untuk kambing antara Rp2 juta-Rp5 juta per ekor, sedangkan untuk sapi mulai dari harga Rp13 juta hingga Rp17,5 juta.

Kambing tersebut didatangkan dari Singaraja dengan alasan kalau dari Pulau Jawa akan sangat sulit dan harus  dilengkapi dengan surat keterangan sehat dari daerah asal serta melalui pemeriksaan Balai Karantina di Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur dan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana.

"Kalau kita beli dari Singaraja tidak harus dengan surat-surat kita ambil sendiri ke Singaraja," ujar pak Imam Hanafi. (*)

Video oleh Analia


Pewarta: Analia

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2017