Singaraja (Antara Bali) - Pelaksanaan Misa Hari Raya Natal di Gereja Katolik Santo Paulus Kota Singaraja Kabupaten Buleleng Bali menekankan sikap toleransi antar pemeluk agama di daerah itu.

"Natal adalah perayaan cinta kasih antarsesama. Cinta saling memberi dan mengasihi tanpa memandang agama, siapa dan darimana," kata Pastur Gereja, Romo Yohanes Handriyanto alias Romo Hans, Minggu.

Ia mengatakan, Natal adalah sebuah paradoks ketika Allah datang menjadi manusia dan lahir sebagai Kristus di Kota Betlehem dan orang-orang di kota itu tidak menyadari kelahiran Kristus yang menjadi peristiwa sekali seumur hidup mereka.

Ia menambahkan, di Nusantara, perayaan Natal selama ini menjadi paradoks yang semakin terasa di tengah intoleransi oleh sekelompok orang yang terjadi belakangan.

Romo mengungkapkan, hal tersebut justru semakin mengingatkan umat Katolik tentang makna sejati dari perayaan Natal yakni untuk menyambut Allah yang menjadi manusia dan hadir bertemu dengan umatnya.

Natal, kata dia, bukan topi santa. Natal juga bukan kemeriahan di pasar modern. Natal adalah waktu untuk menyambut Allah yang menjadi manusia untuk hadir bertemu dengan umat manusia.

"Itulah makna sebenarnya dari perayaan Natal itu," tegasnya. (WDY)

Pewarta: Pewarta: I Made Bagus Andi Purnomo

Editor : I Made Andi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2016